Kombinasi Figur Atut-Rano Terlalu Kuat

By  |  0 Comments

ratu atut dan rano karno

Banten – Kemenangan telak Atut-Rano dalam pemilukada Banten ditengarai disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Selain figur ketokohan Atut dan Rano sebagai faktor utama, dukungan jaringan yang sudah mengakar, serta kerja maksimal dari partai politik disebut sangat berperan. Sementara pesaing utama, Wahidin tidak mendapat sokongan berarti dari wakilnya Irna, ditambah dukungan Demokrat yang sangat minim.
Demikian analisis dari peneliti dan analisis politik Charta Politika, Arya Fernandez terkait perolehan suara Atut-Rano yang mendekati angka 50 persen (49,65 persen) kepada wartawan, Senin (31/10).
Dijelaskannya, pertarungan pemilukada pada dasarnya adalah pertarungan ketokohan, bukan pertarungan partai. Yang dipertaruhkan adalah figur karena masyarakat lebih melihat kapasitas personal. Ketokohan yang bagus itu menjadi lebih maksimal ketika mendapat dukungan oleh partai. Partai sendiripun menjadi semangat bekerja ketika mereka tahu bahwa figur yang diusung mendapat sangat populer di mata masyarakat
“Dalam hal ini, Atut sangat diuntungkan. Selain mempunyai ketokohan yang sudah sangat populer di Banten, Atut juga didukung oleh jaringan yang sudah mengakar, ditambah lagi dengan popularitas Rano Karno. Pada saat yang sama, kerja partai pendukung terutama Golkar dan PDIP juga berjalan optimal-maksimal,” jelas dosen Universitas Paramadina ini.
Ditambahkan Arya, ketika Atut sudah berpasangan dengan Rano, Wahidin tidak bisa menyaingi sama sekali pasangan ini. Ditambah lagi kesalahan Wahidin memilih pasangan, Irna. Wakil yang tadinya diharapkan mampu mengisi kekosongan ketokohan Wahidin di selain Tangerang Raya, ternyata untuk di Pandeglang saja sebagai basis utamanya, Irna kalah.
“Figur Wahidin tak terlalu kuat berhadapan dengan Atut apalagi setelah Atut berpasangan dengan Rano. Irna yang tadinya diharapkan mampu menyokong ketokohan Wahidin di daerah selain Tangerang Raya, ternyata tidak sesuai harapan karena dia tidak dikenal masyarakat Banten kecuali warga Pandeglang,” ujar Arya.
Pada saat yang sama, kata Arya, dukungan partai pengusung terhadap Atut-Rano juga sangat maksimal. Tokoh-tokoh nasional partai Golkar, PDIP, Hanura dan PAN turun. Pak Ical (Aburizal Bakrie,red), Akbar Tanjung, Megawati, Amien Rais, Wiranto, dan tokoh-tokoh pusat lainnya turun aktif berkampanye dan keliling membantu kemenangan Atut-Rano.
Sementara disisi WH, mesin partai Demokrat tidak terlalu maksimal mendukung Wahidin. Hal itu disebabkan oleh ketokohan Wahidin yang tidak merata di setiap Kabupaten Kota meski dia sendiri adalah Ketua DPD Partai Demokrat Banten. Selain itu, Demokrat pusat juga sedang dilanda oleh masalah internal yang complicated, kasus-kasus hukum yang menyita perhatian publik, serta isu reshuffle yang membuat energi mereka tersita.
“Karena banyak kasus yang sedang melanda Demokrat, mereka menjadi tidak serius memenangkan Wahidin,” analisisnya.
Mengomentari dominannya Partai Nasdem dalam pencitraan media serta atribut-atribut kampanye yang ditengarai telah melahirkan sentimen politik negatif di kalangan demokrat, Arya melihat faktor itu tidak terlalu dominan bagi kinerja mesin Demokrat. “Mungkin itu sedikit berpengaruh tapi itu tidak terlalu menentukan. Itu hanya variabel antara saja, bukan faktor utama. Faktor utama adalah banyaknya kasus yang sedang dihadapi Demokrat sehingga mereka tidak bisa serius menghadapi Pemilukada Banten,” tandasnya.

 

(kabarpolitik.com / joya)

TwitterGoogle+LinkedInPinterestFacebookDiggYahoo MessengerShare
happywheels