Buruh dan Mahasiswa ancam Tutup Bandara Soeta

By  |  0 Comments

Serang – Ribuan buruh dari Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, serta ratusan mahasiswa Banten melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan dilakukan pemerintah pada awal April 2012. Aksi unjuk rasa itu dilakukan di depan Kantor Gubernur Banten, Kamis, 22 Maret 2012.
Para buruh dan mahasiswa mendesak Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan DPRD Banten menandatangani surat rekomendasi yang menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Banten dan DPRD Banten menolak rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah pusat.
“Jika pemerintah tetap menaikkan harga BBM, kami akan memblokade jalan tol, Bandara Soekarno-Hatta, dan pelabuhan,” ujar Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Tangerang, Imam Sukarsa, Kamis.
Menurutnya, kenaikan harga BBM hanya menyusahkan masyarakat, apalagi kaum buruh, “Dengan kenaikan harga kebutuhan pokok serta meningkatnya kemiskinan,” ujarnya.
Sementara perwakilan mahasiswa, Mahendra, mengatakan kebijakan kenaikan harga BBM yang akan dilakukan pemerintah merupakan kejahatan terstruktur karena dengan adanya kenaikan harga BBM itu penderitaan masyarakat akan bertambah. “Rakyat akan semakin sengsara dengan kenaikan harga BBM ini,” kata Mahendra.
Aksi para buruh tersebut dijaga ketat oleh ratusan aparat dari Polres Serang dan Polda Banten serta TNI. Tidak hanya itu, polisi juga memasang pagar kawat berduri, kendaraan water canon dan sejumlah kendaraan taktis lainnya.
Aksi yang berlangsung sejak pukul 13.30 WIB semula berjalan aman dan tertib. Mereka bergantian melakukan orasi. Dua jam kemudian baru aksi mulai memanas dengan adanya dorong-dorongan dan sempat terjadi saling pukul antara para pengunjuk rasa dengan aparat yang menjaga pintu gerbang gubernur Banten.
Selang tiga jam berorasi, sekitar 10 orang perwakilan dari pengunjuk rasa diterima oleh Asda III Pemprov Banten Eutik Suharta dan Anggota DPRD Banten Ananta Wahana. Dalam pertemuan tersebut para buruh mengajukan surat dukungan agar Pemprov Banten dan anggota DPRD Banten menandatangani surat pernyataan penolakan terhadap kenaikan harga BBM.
Namun saat disodorkan kepada Etik Suarta, ia menolak keinginan para buruh itu karena mengaku dirinya tidak berwenang dalam penolakan harga BBM. “Karena ini bukan wewenang saya, dan saya tidak bisa melakukannya,” ujar Eutik.
WASI’UL ULUM

happywheels