Herman Deru Berpeluang Besar Menangkan Pilkada Sumsel

By  |  0 Comments

Oleh: Zainal Arifin Hasan
(Ketua Lembaga Kajian Strategis dan Kebijakan Publik Sumsel)

Berdasarkan hasil berbagai survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey, pasangan Herman Deru-Maphilinda Boer (Derma) berpotensi memenangkan pemilukada Sumsel yang akan berlangsung kamis besok, 6 Juni 2013. Berbagai lembaga survey menyebutkan persaingan ketat terjadi antara pasangan incumbent Alex Noerdin-Ishak Mekki (ALIM) dengan penantang, Derma. Meskipun pemilkada diikuti oleh empat pasangan, namun di antara tiga pasangan penantang lainnya, Derma dianggap paling potensial mengalahkan incumbent seperti yang ditunjukkan oleh berbagai hasil penelitian lembaga-lembaga survey.

Berdasarkan hasil survey beberapa lembaga, baik yang dirilis di media, maupun yang dilakukan oleh lembaga survey internal masing-masing pasangan, diketahui terjadinya persaingan yang ketat antara pasangan ALIM dan DERMA. Lembaga Survey Pembangunan Indonesia misalnya, menyebut pasangan ALIM memperoleh 32,17%, DERMA 30,4%, ESP-WIN 23,42% dan Iskandar-Hafiz 7,64% dengan angka pemilih yang belum menentukan pilihan sebesar 6.37%. Peluang pasangan DERMA untuk memenangkan pilkada berdasarkan survei LSPI adalah pada data angka 6.37% masyarakat yang belum memutuskan, karena dari berbagai pilkada seringkali angka masyarakat yang belum memutuskan kecenderungan untuk memilih penantang jauh lebih besar dibandingkan kepada pasangan incumbent. Masih menurut survey ini, pasangan penantang lainnya cenderung stagnan atau lambat dibandingkan pasangan Derma, seperti yang terekam dalam survey-survey sebelumnya. Jadi, besaran 6,37% pemilih yang belum menentukan pilihan berpotensi untuk didapatkan pada pasangan penantang yang dianggap memiliki kans untuk menang dan secara trend terus meningkat.

Tidak jauh berbeda, survey yang dilakukan oleh Lembaga Riset Indonesia (LRI) seakan mengonfirmasi temuan survey LSPI. Berdasarkan survey LRI, pasangan ALIM bersaing ketat dengan pasangan DERMA. Potensi kemenangan pasangan Derma didapati dari trend meningkatnya suara pasangan Derma dari survey ke survey dan sebaliknya pada pasangan ALIM mengalami trend penurunan yang cukup signifikan. Menurut LRI, faktor terus menurunnya pamor pasangan ALIM lebih disebabkan angka ketidapuasan masyarakat terhadap incumbent yang rendah dan beberapa isu yang dianggap negatif yang melekat pada Alex Noerdin. Isu pencalonan Alex Noerdin di pilkada DKI Jakarta dianggap sebagian besar masyarakat Sumsel sebagai langkah yang keliru dan tidak etis, karena dipersepsikan oleh sebagian besar masyarakat Sumsel sebagai rakus, ambisius dan meninggalkan tanggung jawab. Tanpa menyebut angka, menurut LRI, trend menurunnya suara Alex akan terus berlanjut sampai Pilkada. Maka, diprediksi oleh lembaga ini, pasangan Derma adalah pasangan penantang yang berpotensi kuat meraih suara mengambang atau suara yang belum menentukan pilihan.

Berbeda dengan dua survey di atas, survey yang dilakukan oleh masing-masing pasangan, menunjukkan angka yang berbeda-beda. Namun, kecenderungan survey masing-masing pasangan umumnya mengunggulkan pasanganya masing-masing. Kita harus kritis dan hati-hati merespon survey yang dilakukan oleh pasangan masing-masing karena tingginya bias kepentingan. Pasangan ALIM misalnya berdasarkan survey yang dilakukan oleh konsultan politik mereka, Political Marketing (POLMARK) dan Charta Politica, berdasarkan informasi yang diterima, ALIM unggul tipis atas pasangan lainnya. Angka ini berbeda dengan hasil survey pasangan Derma yang dilakukan oleh konsultan politik mereka, Saiful Mujani Research and Marketing (SMRC) yang mengunggulkan pasangan Derma dibanding ALIM dengan selisih tipis.
Survey yang dilakukan oleh pasangan ESP-Win juga tidak kalah kontroversial. Menurut survey pasangan ini yang dilakukan, ESP-WIN unggul mengalahkan semua pasangan lainnya, kemenangan ini didasari oleh kemenangan mereka yang cukup meyakinkan di kota Palembang dan hampir semua daerah di Sumsel. Tidak jauh berbeda dengan pasangan ESP-WIN, survey pasangan Iskandar-Hafiz juga melakukan survey seperti yang dirilis oleh Lembaga Survey Indonesia Sumsel. Meskipun pasangan ini paling bontot memutuskan untuk maju, namun pasangan ini dianggap sudah berhasil meraih kemenangan dibandingkan pasangan lainnya. Survey ini menjelaskan faktor keinginan masyarakat Sumsel yang sangat tinggi terhadap perubahan dan anti status quo.

Tentu saja, atas semua hasil lembaga survey di atas, masyarakat Sumsel harus berhati-hati dan kritis menilai hasil penelitian yang beredar di masyarakat. Hal tersebut karena beberapa alasan penting. Pertama, hasil survey adalah hasil penilitian yang terbatas secara waktu, karenanya hanya dapat memotret kondisi masyarakat pada saat penelitian itu dilakukan. Survey sangat dinamis dan untuk terjadinya perubahan-perubahan masih terbuka lebar. Kedua, lembaga survey belakangan banyak mendapatkan kritis serius lantaran dianggap sudah tidak bisa lagi menjaga kredibiltas dan independensinya. Banyak lembaga survey yang mengabdi dan melayani kepentingan politik pemesan sehingga disain penelitian dan hasilnya dapat disesuaikan dengan keinginan dan kepentingan pasangan calon yang memesannya. Kita tentu saja sangat senang dengan menjamurkan lembaga survey yang dapat merekam suara masyarakat dalam proses pemilihan politik di Indonesia. Namun semangat dan prinsip penelitian tidak boleh dilupakan, yaitu untuk pendidikan politik dan evaluasi publik untuk menghasilkan program dan kebijakan yang dapat berpihak kepada kepntingan publik secara lebih luas. Meskipun umumnya digunakan untuk kepentingan politik sesaat, namun sejatinya penelitian tersebut dapat digunakan untuk merekam suara publik dan memastikan semua strategi dan program yang dirancang oleh pasangan adalah sesuai dengan aspirasi publik yang bermuara kepada kesejahteraan masyarakat.

Siapakah yang bakal memenangkan pemilukada Sumsel ke depan? Kita tunggu bersama-sama pada kamis, 6 Juni 2013 besok. Selamat berdemokrasi, Sumsel!

TwitterGoogle+LinkedInPinterestFacebookDiggYahoo MessengerShare
happywheels