Connect with us

Nasional

Jika Tarif Ojol Melangit, Permintaan Konsumen Turun 71,12 Persen

Avatar

Published

on

Kabarpolitik.com, JAKARTA – Rencana pemerintah menaikkan tarif ojek online diprediksi bakal menimbulkan dampak negatif dibanding positif. Permintaan konsumen diperkirakan akan mengalami penurunan drastis sehingga berdampak pada pendapatan pengemudi ojol.

Hal itu diungkapkan oleh Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) dalam hasil survei dengan 2001 konsumen pengguna ojol di 10 provinsi.

Ketua Tim Peneliti RISED Rumayya Batubara mengatakan, konsumen sangat sensitif terhadap segala kemungkinan kenaikan tarif. “Kenaikan tarif ojek online berpotensi menurunkan permintaan konsumen hingga 71,12 persen,” ujarnya dalam diskusi di Hongkong Cafe, Jakarta, Senin (11/2).

Hasil survei menyebutkan 45,83 persen responden menyatakan tarif ojol yang ada saat ini sudah sesuai. Bahkan 28 persen responden lainnya mengaku bahwa tarif ojol saat ini sudah mahal dan sangat mahal.

“Jika memang ada kenaikan, sebanyak 48,13 persen responden hanya mau mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5 ribu per hari. Ada juga sebanyak 23 persen responden yang tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan sama sekali,” tuturnya.

Dari hasil riset yang dilakukan RISED, lanjut Rumayya, rata-rata jarak tempuh konsumen adalah 8,8 km per hari. Dengan jarak tempuh sejauh itu, apabila terjadi kenaikan tarif dari Rp 2.100 per km menjadi Rp 3.100 per km maka pengeluaran konsumen bakal bertambah sebesar Rp 7.920 per hari.

“Bertambahnya pengeluaran sebesar itu akan ditolak oleh kelompok konsumen yang tidak mau mengeluarkan biaya tambahan sama sekali dan hanya ingin mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5 ribu per hari,” tandasnya.

(JPC)

source

Advertisement