Connect with us

Opini

Lawan Terberat Jokowi Bukan Prabowo

Published

on

Oleh: Rudi S Kamri

Melihat perkembangan proses kontestasi Pilpres 2019 secara kasat mata kita bisa menebak siapa yang bakal jadi pemenang. Dengan tetap berserah pada kehendak Allah dan dengan asumsi tidak ada huru-hara politik yang luar biasa, kita bisa menerka siapa yang akan gagal lagi di Pilpres 2019 ini.

Melihat berbagai blunder fatal yang dilakukan oleh Prabowo dan Sandiaga dalam setiap penampilan kampanye mereka, bisa dipastikan Prabowo akan nyungsep lebih parah lagi dibanding Pilpres 2014. Mengapa ?

PERTAMA
Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandiaga terlihat tidak punya konsep dan strategi yang jelas untuk memenangkan Pilpres 2019. Visi dan misi yang katanya sudah dibuat tidak pernah muncul ke permukaan. Yang dominan muncul ke permukaan adalah serangan tanpa data dan solusi dari Prabowo dan Sandiaga terhadap Jokowi. Akibatnya serangan yang bernuansa “ngasal” dan HOAX ini menjadi bulan-bulanan netizens dan sangat mudah dipatahkan oleh Pemerintah atau pihak lain yang berkepentingan.

KEDUA
Prabowo dan Sandiaga terlihat berjalan sendiri-sendiri tanpa terbaca bekerja dalam Teamwork yang kompak. Prabowo ngoceh kesana-kemari dengan materi ujaran yang ngaco sembari menghina banyak pihak. Sedangkan Sandiaga sibuk hanya ngurusin pasar dan selanjutnya memproduksi kebohongan masalah harga dan sepinya pembeli. Tidak terlihat pembagian kerja yang terarah dan tepat sasaran.

KETIGA
Soliditas partai pendukung Prabowo Sandiaga sudah terbaca remuk redam tanpa koordinasi. Terlihat dengan jelas tidak ada sinkronisasi program antara Partai dengan BPN Prabowo Sandiaga. Sebagai contoh masalah gaji guru 20 juta yang disuarakan si bengkong keong Mardani Ali Sera langsung dimentahkan sendiri oleh Prabowo. Partai-partai pendukung kecuali Gerindra TERLIHAT mulai ancang-ancang cari selamat sendiri. Mereka lebih fokus untuk mensukseskan Pemilihan Legislatif dibanding Pilpres. Sangat masuk akal karena mereka sudah ‘hopeless’ dengan elektabilitas Prabowo Sandiaga Uno yang semakin tersungkur.

KEEMPAT
Ada pengakuan memprihatinkan dari Prabowo bahwa kondisi keuangan kampanyenya sedang berdarah-darah. Hasyim Djojohadikusumo tidak bisa lagi diandalkan menjadi penyumbang potensial karena kondisi keuangannya sudah koma tergerus kekalahan 2x Pilpres (2009 + 2014). Sedangkan dalam kenyataannya janji Sandiaga Uno ternyata hanya manis di bibir saja. Komitmen akan menyediakan dana dengan memobilisasi dukungan para pengusaha ternyata juga hanya PHP. Karena pengusaha dengan kalkulasi bisnis investasi yang obyektif lebih aman mendukung Jokowi, apalagi ada Erick Thohir di kubu Jokowi. Tanpa dukungan logistik dan keuangan yang memadai secara realistis akan menyulitkan mobilitas Prabowo.

KELIMA
Faktor KH Ma’ruf Amin dan konsistensi Jokowi dalam merangkul kelompok Islam. Hal ini membuat lumbung suara Prabowo Sandiaga di beberapa tempat tergerus dengan tajam. Banyak kelompok Islam mulai berpaling dari Prabowo Subianto dan merapat ke kubu Jokowi. Alasannya adalah Jokowi dan KH Ma’ruf Amin secara jelas lebih menunjukkan keberpihakan dan sudah berkarya nyata untuk kemakmuran Islam di negeri ini dibanding Prabowo yang belum berbuat apa-apa untuk kemaslahatan umat Islam. Apalagi ada statemen secara jelas bahwa Prabowo mendukung perpindahan Kedubes Australia di Israel ke Yerusalem. Ini blunder terparah dari Prabowo dan sangat melukai hati umat Islam.

Dari kelima hal yang menjadi ‘handycap’ dari kubu Prabowo di atas Insyaallah kemenangan Jokowi sudah di depan mata. Hanya beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Tim Pemenangan Jokowi – Ma’ruf Amin :

PERTAMA
Jokowi dan Ma’ruf Amin harus menghilangkan penggunaan diksi yang kasar dalam mengungkapkan kekesalannya. Seperti kata ‘sontoloyo’, ‘tabok’, ‘buta-tuli’ dan diksi sejenisnya. Diksi seperti itu hanya terdengar lucu sesaat tapi meninggalkan citra negatif yang sangat lama. Selain kurang edukatif dan tidak elok, secara umum kaum milenial dan ‘undecided voters’ tidak suka melihat seorang pemimpin yang kasar dan emosional. Biarlah kekasaran dan kecerobohan itu menjadi hak mutlak Kubu Prabowo. Kubu Jokowi harus tampil sebagai pembeda yaitu santun, obyektif dan edukatif.

KEDUA
Tim Pemenangan Jokowi harus memobilisasi para relawan Jokowi untuk turun ke masyarakat akar rumput. Tanpa harus menggunakan seragam atau atribut kampanye yang over dosis. Cukup datang melebur dengan masyarakat dan dengarkan logika masyarakat akar rumput bekerja dan arahkan ke arah yang positif.

KETIGA
Selama masa kampanye sebagai petahana Jokowi harus bisa mengendalikan Kementerian, Lembaga Negara dan BUMN agar tidak membuat kebijakan yang merugikan masyarakat. Kebijakan apapun yang merugikan masyarakat akan kontra produktif terhadap upaya memobilisasi dukungan masyarakat untuk Jokowi.

Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa LAWAN TERBERAT Jokowi bukan Prabowo melainkan pada Jokowi sendiri dan strategi Tim Pemenangan Jokowi. Strategi kampanye yang terarah dan tepat sasaran serta dilakukan dengan cara dan bahasa yang santun akan menancap kuat di hati masyarakat. Demikian pula sebaliknya.

Terakhir saya menghimbau, agar kita tidak perlu terlalu sering menghujat Prabowo. Cukup kita doakan saja agar beliau tabah dan sabar menghadapi kekalahan yang terus menerus berulang dan akan kembali berulang.

Sabar ya Pak Wo….