Connect with us

Opini

Menanti Ide Perubahan dari Para Calon

Published

on

Oleh: Tantan Hermansah

Mereka yang mendirikan republik ini dulu, tidak ada yang berfikir mengenai popularitas dan elektabilitas. Mereka dikenal bukan karena sering disurvei, atau tampil di tv, atau sering memajang photo diri bersama para tokoh.

Mereka itu dikenal karena ada ide-ide yang dituangkan dalam beragam media atau ditawarkan ke publik mengenai perubahan. Lihat saja bagaimana pikiran-pikiran orisinil dari seorang M. Hatta yang ditulis dengan gaya Bahasa Melayu dan penuh metafora. Atau Bahasa Soekarno yang lugas, sistematis, tertata, atau Syahrir yang genius dan solutif, atau M. Natsir yang lembut tapi berbobot. Mereka adalah satu di antara para pendiri bangsa, cum pejuang yang berfikir, berdiskusi, memperluas wawasan, berdebat, karena ingin menghasilkan perubahan bagi Indonesia.

Tidak ada ide yang nista. Maka, argumen dilawan argumen. Kata dibalas kata. Metafora dijawab metafora. Perdebatan menjadi keindahan. Argumen menjadi pesona, dan pertarungan gagasan menjadi kebutuhan.

Di kursi penonton, berjejer kawan dan lawan. Saling tepuk tangan dan apresiasi. Sebagaimana para pemimpin di depan yang sedang beradu kecendikaan di depan itu saling memuji tanpa menjatuhkan; menebas tapi memuliakan; menghantam tapi memanusiakan.

Karena dalam pandangan kedua pihak, sang pemimpin yang sedang tampil atau ditampilkan, juga para pendukungnya, republik butuh aksi yang dihasilkan dari saripati perdebatan pada panggung-panggung itu.

Kredo lama berkata: “politik adalah seni”. Karena di dalanya ada “seni”, maka keindahan menjadi tahta. Dan sebagaimana hakikat dari apa yang disebut “seni”, keindahan yang memendar muncul dari dirinya; tidak tergantung kepada pihak lain, atau karena ada “lawan”.

Coba lihat keindahan sebuah lukisan, atau benda seni lainnya. Eksistensi dirinya tidak tergantung kepada galeri yang memajangnya, atau orang yang memaknai dan merasakan spiritulitasnya.

Cara berfikir politik yang ber”seni” tentu akan menghasilkan kekaguman. Kekuatan argument yang dibaluti nilai-nilai persatuan, toleransi, penghormatan, dan visi melihat negara-bangsa di masa depan. Oleh karena itu, penistaan, termasuk kepada lawan, bukan sesuatu yang ditonjolkan, apalagi disoraki dengan kegembiraan.

Ide-ide Perubahan sang Pemimpin

Lalu mengapa kita seperti dalam pusaran politik yang dangkal, yang kemudian mengundang masifnya argumentasi yang tidak hanya bertentangan dengan kepantasan, tetapi lebih jauh seperti menanggalkan tubuh kemanusiaan itu sendiri.

Menanggalnya nurani politik bisa kita baca dari beberapa sudut pandang: pertama, banyak politisi kita tidak bisa membedakan moral politik dengan politik itu sendiri. Ketika kredo “seni mendapatkan kekuasaan” diterapkan, maka yang dilakukan adalah upaya-upaya dangkal dan rapuh yang sangat jauh dari proses. Upaya-upaya ini juga yang secara lateral diterapkan oleh pengikutnya sebagai “menghalalkan segala cara”.

Kedua, banyak pemimpin politik (setidaknya mereka yang mengklaim sebagai pemimpin, kehilangan pikiran-pikiran otentik mengenai: masa depan, perubahan, nilai-nilai, yang semuanya merupakan rangkuman dari cita-cita berbangsa dan bernegara kita. Dengan kehilangan pikiran-pikiran otentik, maka yang kemudian dipelihara adalah nafsu melanggengkan kekuasaan yang sudah digenggam.

Ketiga, jikapun ada pemimpin yang sudah memiliki gerbong pengikut yang kuat dan militanpun, ternyata tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk mendeliver gagasan perubahan tersebut kepada “jama’ah” atau basis massanya. Pertemuan-pertemuan besar yang dilabeli sebagai politik, tidak jarang hanya selebrasi kekuasaan gelembung sabun, atau drama-drama teatrikal tapi hampa pesan.

Menemukan Pemimpin Otentik

Adakah pemimpin otentik? Ketika media dan massa menjadi pendikte, hadirnya pemimpin yang menunjukkan otentisitasnya, akan seperti medan magnet yang bukan hanya mengawal, tetapi juga menciptakan perubahan. Sebab, perubahan menuju kemajuan yang pasti, dalam diri pemimpin otentik tersebut sudah melekat jadi citra keseharian.

Setiap perhelatan politik, rakyat selalu butuh pemimpin otentik. Pemimpin yang berproses tidak hanya karena diciptakan oleh perangkat teknologi, tetapi yang benar-benar tumbuh atau bertumbuh dari ruang kehidupan. Pemimpin inilah, yang walau ada gonjang-ganjing pragmatism kekuasaan, tidak akan pernah lekang dana tau bernegosiasi dengan jaman.