Connect with us

Nasional

Persaingan SNMPTN Lebih Ketat, Siswa Jangan Sampai Salah Pilih

Avatar

Published

on

Kabarpolitik.com, JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berharap para siswa bisa memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan baik ketika mendaftar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2019. Pendaftaran sendiri sudah dimulai sejak kemarin, Senin (4/2).

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Ismunandar mengatakan, siswa harus memahami aturan main SNMPTN. Hal itu mengingat hanya ada dua jurusan yang boleh dipilih dalam satu universitas.

Menurutnya, pemilihan itu harus disesuaikan dengan prestasi calon mahasiswa. Selain itu, mereka disarankan untuk mengenali kemampuan yang dimiliki.

“Pahami dengan baik aturan-aturannya, sekarang itu pilihan hanya boleh dua. Pilih yang terbaik yang menurut calon mahasiswa itu prestasinya cocok pilihannya yang dituju di universitas nanti,” ujar Ismunandar saat ditemui di kantor Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Selasa (5/2).

Dia mengingatkan, khusus program studi seni dan olahraga, siswa wajib mengunggah portofolio dan dokumen bukti keterampilan yang telah disahkan kepala sekolah menggunakan pedoman yang dapat diunduh dari laman SNMPTN.

“Jangan lupa kalau memilih jurusan seni dan olahraga portofolionya di-upload. Tunjukkan prestasi terbaiknya, karena nanti jadi salah satu pertimbangan penting dalam seleksi,” katanya.

Pada 2019, jumlah peserta SNMPTN naik 40 persen dari tahun sebelumnya. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya jumlah sekolah dan siswa yang mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) yakni sebanyak 14.744 sekolah.

Oleh karena itu, Ismunandar memprediksi terjadinya persaingan lebih ketat antar calon mahasiswa peraih SNMPTN. Pasalnya, jumlah peserta yang meningkat tidak sebanding dengan ketersediaan kursi yang menurun.

Tercatat sebanyak 613.860 siswa yang dinyatakan eligibel atau berhak untuk mendaftar di PTN.

“Jumlah pesertanya naik 40 persen sementara kuotanya menurun. Tahun lalu kan kuotanya maksimal 30 persen, sekarang kuotanya hanya 20 persen. Jadi akan terjadi persaingan. Diharapkan kita mendapatkan mahasiswa yang jauh lebih baik,” tutur dia.

(JPC)

source

Advertisement