Connect with us

Internasional

Kelab Malam Telah Dibuka, Sebagian Besar Warga Singapura Enggan Datang

Avatar

Published

on

Kabarpolitik.com – Pemerintah Singapura sudah mulai memberlakukan program percontohan untuk membuka sebagian tempat hiburan malam selama pandemi Covid-19 dengan pembatasan ketat menuju fase 3 pelonggaran ekonomi. Meski dibuka, jajak pendapat yang digelar Sunday Times (ST) menunjukkan bahwa warga Singapura memiliki pendapat yang beragam soal ini.

Mulai bulan depan, Singapura akan membuka tempat hiburan malam seperti karaoke dan kelab malam. Namun menurut survei, warga Singapura menilai jarak aman yang diterapkan di tempat-tempat ini terlalu membatasi atau menyusahkan.

  • Baca juga: Kembali dari Indonesia, Pria Singapura Tak Akui Tertular Covid-19
  • Baca juga: Ilmuwan Singapura Sebut Virus Korona Bertahan 3 Minggu di Makanan Beku

Dilansir dari Straits Times, Senin (22/11), dari 400 responden yang mengambil bagian dalam jajak pendapat, 62 persen mengindikasikan mereka tidak akan mengunjungi karaoke. Dan 73 persen mengatakan mereka akan menjauh dari kelab malam. Artinya hampir dua pertiga masih enggan mendatangi hiburan malam. Lalu sekitar 35 persen responden mengatakan mereka akan melindungi bisnis tersebut dan 18 persen lainnya menanggapi dengan kata ‘mungkin’.

Responden tak sepakat dan mempermasalahkan tes wajib Covid-19, sebelum masuk ke kelab malam. Pelanggan harus dites Covid-19 dan negatif selama 24 jam sebelum sesi karaoke atau dugem berakhir. Sekitar 70 persen mengatakan mereka menolak dites Covid-19.

Sekitar 47 persen dari mereka yang disurvei juga mengatakan biaya pengujian harus dibagi dan menjadi tanggungan antara pemerintah, bisnis, dan konsumen. Responden Codi Koh, 35, mengatakan dia tidak akan mengikuti tes Covid-19 hanya untuk datang ke kelab malam. Sebab dia takut atas ketidaknyamanan yang ditimbulkannya.

“Di bawah pengaruh pencahayaan lembut, musik, dan alkohol. Anda akan merasa sangat nyaman, dan begitu Anda merasa sangat nyaman, Anda cenderung melupakan semua aturan,” kata Koh.

Sementara responden lainnya, Teo, 35, mengatakan akan mengikuti tes sebelum masuk kelab malam dan bar yang sering dia datangi. Dia melihat tes itu sebagai budaya normal baru. Namun, dia keberatan dengan biaya tesnya.

“Saya merasa baik pemerintah atau bisnis harus menanggung tes, dan jelas bukan pelanggan. Jika meminta pelanggan untuk membayar tes, mereka akan memilih untuk tidak pergi ke tempat hiburan,” kata Teo.

Seperti yang lainnya, Teo juga mempertanyakan perlunya wajib mengenakan masker dan larangan penjualan alkohol setelah pukul 22.30, yang menurutnya merupakan tindakan yang tidak perlu setelah seseorang dinyatakan negatif Covid-19. Namun ahli kesehatan mengatakan bahwa tindakan protokol adalah suatu keharusan.

Dekan Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock di Universitas Nasional Singapura, Profesor Teo Yik Ying, mengatakan tes Covid-19 negatif tidak menjamin bahwa seseorang pasti bebas infeksi, karena virus tersebut memiliki masa inkubasi selama itu. Seseorang bisa saja negatif saat dites. Dia juga mengatakan selalu ada kemungkinan hasil negatif palsu.

“Sampai ada cara yang sangat mudah untuk memastikan setiap orang di tempat karaoke atau kelab malam tidak terinfeksi, tindakan seperti pemakaian masker dan jarak yang aman perlu tetap dilakukan sebagai tindakan pencegahan,” kata Prof Teo.

Saksikan video menarik berikut ini:

(jp)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *