Connect with us

Internasional

Konflik Antar Negara Adidaya Bisa Ancam Keamanan dan Ekonomi Indonesia

Published

on

Kabarpolitik.com – Konflik yang terjadi di sejumlah negara dinilai berpotensi mengancam ekonomi dan keamanan Indonesia. Hasil Kajian Laboratorium Indonesia 45 (LAB 45) dan Parahyangan Center for International Studies (PACIS) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memetakan, terdapat enam konflik yang mesti diwaspadai Indonesia.

Keenam konflik tersebut di antaranya Laut China Selatan, Selat Taiwan, Kepulauan Diaoyu/Senkaku, Semenanjung Korea, Teluk Persia, dan Rusia-Ukraina.

Tim Kolaborasi Riset LAB 45 dan PACIS Unpar Reine Prihandoko menyampaikan, konflik Laut China Selatan menjadi konflik dengan risiko paling tinggi untuk Indonesia.

“Sebenarnya semua skenario berada di tingkat intensitas konflik yang cukup tinggi. Di sisi lain dilihat dari risikonya, yang paling tinggi adalah Laut China Selatan karena dari sisi disrupsi perdaganganya tinggi, tapi jarak geografisnya rendah, bahkan sebenarnya bersinggungan langsung dengan Indonesia,” kata Reine dalam keterangannya, Kamis (29/9).

Menurut Reine, strategi yang bisa diambil oleh Indonesia dapat mencakup empat opsi yaitu, reposisi strategis dengan intensifikasi diplomasi bilateral dan kerja sama minilateral. Kemudian, deeskalasi untuk menghadapi bahaya laten perang bumi hangus total dan sekaligus mencegah risiko konflik yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Selain itu, sekuritisasi untuk melindungi kedaulatan nasional dan menjaga netralitas Indonesia. Serta, mobilisasi untuk menciptakan efek gentar dan mengantisipasi kemungkinan perluasan konfrontasi militer ke wilayah perbatasan Indonesia.

“Yang paling buruk dari skenario tadi adalah kita harus melakukan mobilitasi untuk menciptakan efek gentar dan mengantisipasi ini bisa meluas ke daerah kita. Bisa mengaktifkan komcad (komponen cadangan) atau bahkan wajib militer,” ucap Reine.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Luar Negeri untuk Diplomasi Kawasan I Gede Ngurah Swajaya menuturkan, eskalasi tidak hanya sebatas retorika, tetapi juga berupa aksi-aksi yang akan membuat situasi geopolitik global memasuki tahapan-tahapan sangat membahayakan keamanan dunia. Rivalitas yang dulu hanya sebatas retorika semata antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia, maupun di kawasan Indo Pasifik sudah betul-betul menjadi konflik militer terbuka.

“Bahkan saat ini narasi yang muncul justru juga membawa kemungkinan penggunaan senjata nuklir yang sudah masuk ke dalam wacana yang berbahaya,” pungkasnya.

(jp)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *