Connect with us

Pemerintahan

Tausiyah Ramadan di Pontianak, Wapres Tegaskan Puasa Harus Berdampak untuk Kendalikan Hawa Nafsu

Published

on

Pontianak, Kabarpolitik.com – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin mengunjungi masjid terbesar di Provinsi Kalimantan Barat.

Bersama Ibu Hj. Wury Ma’ruf Amin dan rombongan, Wapres tiba di Masjid Raya Mujahidin yang merupakan kebanggaan masyarakat kota khatulistiwa tersebut sekitar pukul 19.00 WIB dan disambut oleh Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Johni Hasan, Ketua MUI Kalimantan Barat Basri Har, dan Ketua Yayasan Mujahidin Kasri.

Usai menunaikan Salat Isya berjemaah yang diimami oleh H. Mahsuf Nayus, Wapres memberikan tausiyah kepada segenap jemaah masjid yang diresmikan oleh Presiden ke-2 RI Soeharto tersebut.

Dalam tausiyahnya, Wapres mengingatkan kepada umat muslim yang menjalankan ibadah puasa agar berdampak menjadi manusia bertakwa. Salah satunya, urai Wapres mengendalikan hawa nafsu yang bersemayam dalam diri manusia tanpa terkecuali. Karena lanjutnya hawa nafsu cenderung membawa keburukan sehingga perang melawan hawa nafsu merupakan perang besar(Jihadul Akbar).

“Nafsu itu cenderung membawa kepada keburukan. Perang melawan hawa nafsu adalah perang besar, karena berkelanjutan sampai kita meninggal,” tutur Wapres dalam tausiyahnya di Masjid Raya Mujahidin, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Akcaya, Pontianak pada Selasa malam (26/03/2024).

Perihal hawa nafsu ini, lanjut Wapres, dapat menjadi permasalahan bagi siapa saja, termasuk ulama sekali pun. Hawa nafsu dapat menjadikan orang tidak pernah merasa cukup dan berbuat kerusakan. Untuk itu, Wapres mengimbau agar ibadah puasa Ramadan dijadikan sebagai pembiasaan untuk mengendalikan hawa nafsu.

“Itu bahaya nafsu itu. Karena itu nafsu harus dikekang. Nah, kita itu berlatih di bulan Ramadan ini,” ungkapnya.

Selain itu puasa juga kata Wapres melatih kesabaran dan kejujuran.

Lepas memberikan tausiyah, Wapres menunaikan salat tarawih berjemaah dengan diimami oleh Ust Sumardi Alhafiz.

Sebagai informasi, Masjid Raya Mujahidin didirkan pada 1974. Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur khas Kalimantan Barat yang mengadopsi gaya arsitektur Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekkah.

Masjid ini memiliki fasilitas dan sarana yang lengkap, termasuk ruang peribadatan yang dapat menampung sekitar delapan ribuan jamaah ditambah ruang serbaguna, perpustakaan, area parkir, ruang VIP, dan ruang untuk berbagai aktivitas lembaga yang terkait dengan Yayasan Mujahidin Kalimantan Barat. (DMA/RJP, rls)

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *