Connect with us

Pemerintahan

Cerita Di Balik Mitos Angkernya Kediri Didatangi Presiden

Galih

Published

on

Kabarpolitik.com – Pernyataan Sekretaris Kabinet Pramono Anung Sabtu lalu (15/2/2020), yang mengaku melarang Presiden Jokowi berkunjung ke Kediri karena takut bakal dilengserkan seperti Gus Dur, sontak menjadi perhatian publik. Sejurus kemudian, trending topic #JokowiTakutKediri pun melejit di Twitter.

Sebagaimana diketahui, sejauh ini Indonesia sudah punya tujuh presiden. Di antara tujuh tujuh presiden, ada beberapa Presiden RI yang mengakhiri masa jabatannya melalui gonjang-ganjing politik. Sebut saja Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahkan Sukarno dan Soeharto juga demikian.

Mitos berkembang, siapa saja Presiden RI yang mengunjungi Kediri, dia bakal lengser. Pokoknya, Kediri adalah kota angker bagi kunjungan presiden. Bagaimana bisa begitu? Tidak ada jawaban logis, namanya juga mitos.

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Presiden RI 1999-2001) tercatat pernah mengunjungi Kediri saat masih menjabat presiden. Kala itu, Gus Dur membuka Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Lirboyo, Kediri, 21 November 1999. Gus Dur lengser pada 2001, sebelum periode masa jabatannya habis.

Mitos juga menyebut Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie (Presiden RI 1998-1999) juga mengunjungi Kediri dan lengser tiga bulan setelahnya. Meski, Habibie lengser secara normal, karena berakhir dan tidak ikut kontestasi pencapresan 1999.

Dari catatan sejarah ‘keangkeran’ Kediri bagi kehadiran presiden, hampir semua pendapat menyatakan hal tentang ‘wingitnya’ Kota Kediri dibandingkan kota lain di Indonesia bagi penguasa nusantara.

Salah satunya adalah akibat kutukan Kartikea Singha suami Ratu Shima yang juga penguasa Kerajaan Kalingga (pra Mataram Hindu abad ke-6) di Keling Kepung Kabupaten Kediri.

“Kutukannya cukup jelas, siapa kepala negara yang tidak suci benar masuk wilayah Kota Kediri maka dia akan jatuh,” jelas Kiai Ngabehi Agus Sunyoto, budayawan penulis Atlas Walisongo dikutip dari merdeka.com.

Dijelaskan pria yang akrab disapa Mas Agus itu, pada masa pemerintahan Kartikea Singha, sebagai kepala negara dia menyusun kitab tentang hukum pidana pertama di nusantara yang diberi nama Kalingga Darmasastra yang terdiri dari 119 pasal.

“Ini sangat tergantung kepada keyakinan sebenarnya untuk masuk wilayah Daha (Kota Kediri), namun sebagian besar tidak berani masuk wilayah Kota Kediri,” tambahnya.

Mitos itu sebenarnya sudah nyaris patah pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY (Presiden RI 2004-2014). SBY tak ragu-ragu “menabrak” mitos itu. Tapi banyak yang percaya SBY punya trik.

Sebagai catatan, pada erupsi Gunung Kelud tahun 2007 Presiden SBY yang berangkat dari Surabaya terpaksa harus memutar lewat Blitar untuk menuju ke lokasi pengungsian di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. tujuannya agar tidak menyeberangi Kali Brantas.

Dengan bermain siasat, presiden kelima RI ini mampu mengalahkan sabda Prabu Airlanngga yang berucap bahwa pemimpin yang menyeberangi sungai Brantas akan jatuh dari kekuasaannya.

Bila di tahun 2007 siasat SBY menghindari Sungai Brantas dengan rute memutar lewat Blitar. Namun di tahun 2014, mantan Kaster ABRI tahun 1999 tersebut memiliki cara lain yang lebih berani, yaitu menyeberang aliran kali Brantas. Rombongan SBY meluncur dari Madiun menuju Kediri melalui jalan provinsi Kertosono, Nganjuk. SBY datang untuk mengunjungi pengungsi letusan Gunung Kelud. Dia datang ke Masjid Agung An-Nur, Pare, Kediri.

Keputusan rombongan presiden menyeberang Kali Brantas meski diluar Kediri kala itu sempat menimbulkan kekhawatiran banyak pihak yang percaya terhadap mitos itu. Jadi apakah Kediri masih angker bagi Presiden?  [rif]

Source

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *