Connect with us

Politik

Gobel Ingatkan Mea-Mea Lebih Berbahaya daripada Covid-19

Published

on

LIMBOTO (29 Januari): Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) yang juga Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Gorontalo, Rachmat Gobel, kembali mengingatkan tentang bahaya mea-mea atau money politics.

“Mea-mea lebih berbahaya daripada covid-19,” ujar Gobel saat berkampanye di Desa Lupoyo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Jumat (26/1).

Ribuan warga yang hadir dalam acara itu berkali-kali histeris menyambut orasi yang disampaikan Rachmad Gobel. Saat menuju ke panggung kampanye, Gobel terus dikerubuti massa yang berebut bersalaman, menyentuhnya, dan juga mengajak berswafoto. Hal itu berulang saat ia akan meninggalkan arena kampanye.

Mea-mea atau biu-biu adalah istilah Gorontalo untuk menyebut politik uang. Mea dan biu berasal dari kata merah dan biru yang merupakan warna uang kertas untuk nominal Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Money politics juga bisa berupa sembako maupun bansos. Gobel selalu menentang politik uang sejak Pemilu 2019, bahkan saat itu ia mengatakan lebih baik tak dipilih jika harus melakukan politik uang. Gobel selalu menekankan bahwa dirinya menerapkan politik program dan politik visi dengan tagline ‘politik pembangunan dan politik kesejahteraan’.

“Sebagai makhluk Tuhan, saat lahir, seorang anak manusia yang beragama Islam diazankan di telinga kanan dan diqomatkan di telinga kiri. Begitu juga saat dikuburkan ketika meninggal dunia. Bagi yang beragama lain juga memiliki prosesi yang serupa. Jadi sebagai manusia telah dimuliakan Tuhan. Mengapa ada orang yang merendahkan kita melalui mea-mea,” Gobel mengingatkan.

Selain itu, nilai rupiah politik uang pun sangat kecil jika dibagi dalam lima tahun.

“Tak cukup untuk membeli seliter beras,” katanya.

Politik uang, tegasnya, juga telah menggadaikan dan memperjualbelikan hak politik rakyat yang akan menentukan nasib bangsa dalam lima tahun.

Gobel menambahkan, melalui politik pembangunan dan politik kesejahteraan yang dilakukannya, justru memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada money politics.

“Suara bapak dan ibu yang memilih saya adalah sebuah amanah. Amanah itu sebuah kepercayaan, dan kepercayaan adalah kehormatan. Kehormatan harus dibayar dengan kehormatan. Jika setiap suara adalah amanah maka setiap napas saya adalah tanggung jawab dan pengabdian untuk mewujudkan aspirasi bapak dan ibu,” katanya.

Karena itu, tambah Gobel, sejak terpilih menjadi anggota DPR pada 2019 ia selalu datang minimal sekali dalam sebulan selama 4-7 hari.

“Sudah lebih dari 500 titik yang saya kunjungi. Saya berdialog, mendengar aspirasi, dan memberikan solusi melalui program,” katanya.

Sebagian besar penduduk Gorontalo adalah petani dan nelayan. Ia juga mendapati bahwa tanah Gorontalo sangat subur dan lautnya sangat kaya ikan. Alamnya juga indah. Karena itu, ia mengembangkan program pertanian, kelautan, UMKM, pariwisata, perumahan, keluarga, dan pendidikan.

“Saya prihatin terhadap nasib Gorontalo yang salah urus sehingga tetap menjadi provinsi termiskin kelima di Indonesia. Ini karena tak ada pemihakan dari pemerintah daerah untuk pertanian, kelautan, pendidikan, dan lain-lain. Saatnya kita melakukan perubahan,” katanya.

Salah satu jalan untuk melakukan perubahan itu, kata Gobel, adalah dengan menolak politik uang.

“Politik uang membuat kehidupan politik menjadi tidak sehat dan menjadikan orang tak memiliki tanggung jawab. Ini sangat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu mea-mea lebih berbahaya daripada covid-19,” katanya.

(nasihin/*)

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *