Connect with us

Internasional

AS Waspada Virus Demam Lassa, Mirip DBD, Ditularkan Hewan Pengerat

Published

on

Kabarpolitik.com – Nigeria melaporkan ratusan kasus virus demam Lassa yang ditularkan oleh hewan pengerat. Gejalanya demam tinggi disertai sakit kepala dan mual serta muntah. Ada pula gejala perdarahan mirip Demam Berdarah (DBD) jika sudah parah. Mewaspadai kasus ini, Amerika Serikat sampai ikut meneliti penyebab dan penularannya.

Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Penn State telah diberikan USD 4 juta dari National Science Foundation untuk menyelidiki unsur-unsur yang menyebabkan penyebaran virus Lassa dari hewan pengerat ke manusia di Nigeria. Virus Lassa (LASV) adalah anggota keluarga virus yang dapat menyebabkan demam Lassa, penyakit hemoragik virus akut.

Tim akan menggunakan data mereka untuk memetakan dalam skala luas. Risiko LASV menular dan melompat dari hewan pengerat ke manusia.

Misalnya, data yang menunjukkan kapan dan di mana orang bertemu dengan hewan pengerat yang terinfeksi di Nigeria atau Afrika Barat. Selain itu, para peneliti mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana perubahan iklim atau perubahan penggunaan lahan dapat mempengaruhi risiko limpahan virus di masa depan.

Asisten Profesor Antropologi di Penn State, Sagan Friant, berharap penelitian ini akan membantu mereka lebih memahami cara manusia memengaruhi ekologi dan evolusi penyakit menular. Dengan memasukkan manusia ke dalam model, mereka dapat lebih memahami bagaimana perilaku dan interaksi dengan lingkungan.

“Seperti berburu, praktik pertanian, atau pola permukiman, dapat berperan dalam membangun keseluruhan sistem penyakit,” kata Friant.

“Menjadi semakin penting untuk memahami seluk-beluk bagaimana mencegah dan menanggapi wabah LASV dan penyakit yang dibawa hewan pengerat lainnya. Misalnya, monkeypox adalah penyakit lain yang dibawa oleh hewan pengerat yang baru-baru ini meningkat secara global. Maka kita dapat membangun strategi yang lebih efektif untuk mengurangi penyakit,” jelasnya.

Tim ini juga termasuk peneliti dari Tulane University, Zoological Society of London dan African Centre of Excellence for Genomics of Infectious Disease. Menurut Christina Harden, mahasiswa pascasarjana di Penn State’s Intercollege Graduate Degree Program in Ecology. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana aktivitas manusia sehari-hari yang normal seperti berburu atau menanam makanan atau menciptakan atau meredakan risiko orang tertular Lassa.

“Kami berharap dapat melakukan ini dengan melihat secara dekat bagaimana aktivitas ini terkait dengan perilaku reservoir hewan pengerat dan dinamika virus Lassa mereka,” kata Harden.

Demam Lassa Penyakit Zoonosis 

Lassa merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan. Para peneliti mengatakan bahwa pada akhirnya, mereka berharap pekerjaan mereka dapat mengarah pada hasil kesehatan yang lebih baik di daerah yang terkena virus.

Demam Lassa adalah penyakit virus akut hemoragik (pendarahan berlebihan) yang ditularkan ke manusia melalui kontak dengan makanan, barang-barang rumah tangga yang terkontaminasi oleh hewan pengerat yang terinfeksi atau orang yang terkontaminasi. Gejalanya beragam, salah satunya perdarahan.

Gejala meliputi demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, kelemahan tubuh secara umum, batuk, mual, muntah, diare, nyeri otot, nyeri dada. Dalam kasus yang parah, pendarahan yang tidak dapat dijelaskan dari telinga, mata, hidung, mulut, dan bagian tubuh lainnya.

(jp)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.