Connect with us

Opini

Sumur dari Demak, Mengenang Sahabat Fathan Subchi

Published

on

Oleh: Muhaimin Iskandar

Di kampung-kampung pesisir utara Jawa, dulu banyak rumah punya sumur di halaman. Sumur itu tidak berpagar. Siapa saja boleh datang menimba, tetangga, orang lewat, musafir yang kehausan. Pemiliknya tidak pernah bertanya siapa yang datang, dari mana asalnya, atau kapan akan membalas. Orang-orang tua kami percaya, sumur yang sering ditimba justru airnya tetap jernih. Sumur yang dikunci dan dibiarkan, lama-lama airnya keruh lalu mati.

Fathan Subchi adalah sumur semacam itu. Ia lahir dan besar di Demak, di tanah tempat nilai-nilai itu masih hidup, dan ia membawanya ke mana pun ia pergi. Siapa pun boleh menimba darinya, mahasiswa yang tak sanggup membayar kuliah, pasangan muda yang rumah tangganya butuh pertolongan, bahkan orang yang baru kemarin sore ia kenal. Seperti sumur kampung, makin banyak yang menimba, makin jernih sumurnya.

Minggu, 25 Oktober 2026, sumur itu berhenti mengalir. Kabar datang dari Moskow, ribuan kilometer dari Demak. Sahabat saya berpulang dalam usia 56 tahun, saat sedang bertugas. *Innalillahi wa inna ilaihi raji’un*

Saya lama terdiam. Bukan hanya karena kehilangan, tetapi karena cara ia pergi terasa begitu “_Fathan_”, sedang bekerja, sedang dalam perjalanan, sedang dalam keaadaan musafir, sedang menunaikan amanah. Fathan memang bukan sumur yang hanya menunggu ditimba. Ia sumur yang berjalan, yang mendatangi orang-orang yang haus. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah benar-benar berhenti berangkat.

Advertisement

Fathan adalah kita

Fathan lahir di Demak, 11 Februari 1970. Demak adalah kota wali, tanah tempat Islam Nusantara tumbuh dari surau dan pesantren, dari sawah dan pesisir. Dari sanalah mata airnya berasal, tradisi pesantren, adab kepada kiai, dan kebiasaan orang desa yang tidak menghitung-hitung pertolongan.

Saya selalu merasa, Fathan adalah kita. Ia adalah wajah generasi santri di masa itu, dan sayangnya, juga wajah banyak anak santri hari ini. Bagi kaum santri, kuliah adalah kemewahan. Tidak ada biaya untuk melanjutkan. Pintu itu baru terbuka kalau ada beasiswa, entah beasiswa resmi atau uluran tangan orang-orang baik hati.

Fathan lahir di kampung dan tumbuh dalam keluarga miskin yang hidupnya sangat berat. Ayahnya seorang guru agama, pegawai negeri dengan gaji yang tak seberapa. Fathan sempat kuliah di IAIN di Jawa Tengah, tetapi hanya bertahan dua semester. Ayahnya tidak sanggup lagi membiayai, dan Fathan terpaksa berhenti. Bagi anak kampung, itu bukan sekadar jeda. Pada saat seperti itulah sebuah mimpi bisa padam begitu saja.

Tetapi Fathan tidak berhenti berangkat. Ia menuju Jakarta dengan bekal sederhana, ilmu, keberanian, dan niat. Di sana ia bisa kembali kuliah karena mendapat beasiswa. Itulah hukum besi bagi anak miskin dari kampung, ia hanya bisa kuliah kalau ada beasiswa atau ada orang yang mau membantu. Tidak ada nama besar yang menjaminnya, tidak ada jalan pintas. Fathan beruntung mendapatkan salah satu pintu itu, dan ia tidak pernah melupakannya. Selebihnya adalah kesediaannya untuk bekerja lebih keras daripada siapa pun.

Advertisement

Ayah Fathan pernah bercerita kepada saya bahwa nasib keluarganya baru membaik setelah Gus Dur menjadi presiden. Gaji guru PNS mendadak naik tinggi. Hidup yang bertahun-tahun serba kekurangan perlahan menjadi lapang. Sumur keluarga itu pernah nyaris kering, lalu airnya kembali mengalir.

Cerita sederhana itu tidak pernah saya lupakan, karena di situlah makna perjuangan kami. Politik bukan soal kursi. *Politik adalah soal apakah keputusan yang dibuat di Jakarta sampai ke dapur seorang guru agama di Demak*. Itulah yang diperjuangkan Gus Dur, dan itu pula yang kemudian kami bawa ke PKB. Fathan memahaminya lebih dari siapa pun, karena ia mengalaminya sendiri.

Hari ini, masih banyak Fathan lain di kampung-kampung kita. Mereka anak-anak santri yang cerdas dan gigih, tetapi terancam berhenti di tengah jalan karena tidak ada biaya. Perjuangan Fathan belum selesai, karena cerita hidupnya masih terus berulang.

Bertemu di PMII

Saya mengenal Fathan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Di PB PMII kami menemukan rumah. Di sana kami berdebat sampai larut, belajar membaca bangsa ini dengan cara pandang ahlussunnah wal jamaah, dan menyadari bahwa anak-anak santri dari pelosok negeri juga berhak ikut menentukan arah Indonesia.

Advertisement

Ketika saya maju sebagai calon Ketua Umum PB PMII, Fathan termasuk yang berdiri di samping saya. Ia bagian dari tim sukses, istilah yang terlalu formal untuk apa yang ia kerjakan. Ia mengetuk pintu demi pintu dan mendatangi cabang demi cabang. Ia meyakinkan sahabat-sahabat dengan cara yang paling ia kuasai, yaitu kesungguhan. Kalau ia percaya pada sesuatu, ia bekerja untuk itu tanpa perlu diminta dua kali.

Di situlah saya pertama kali menimba dari sumur itu. Sejak itu, persahabatan kami tidak pernah selesai.

Menjaga sumur bersama

Jalan kemudian membawa Fathan ke Partai Kebangkitan Bangsa. Di PKB, Fathan menjadi kader yang bisa diandalkan. Ia bukan yang paling sering tampil, tetapi yang paling sering ada ketika dibutuhkan. Rakyat Kudus, Jepara, dan Demak dua kali mempercayakan suaranya kepadanya, mengantarnya ke DPR RI periode 2014–2019 dan 2019–2024.

Di Senayan ia memilih medan yang tidak populer tetapi menentukan, yaitu Komisi XI yang mengurus keuangan negara, perbankan, dan perencanaan pembangunan. Ia bahkan dipercaya menjadi Wakil Ketua komisi itu.

Advertisement

Sejak Oktober 2024, ia melanjutkan pengabdian sebagai Anggota BPK RI. Saya selalu merasa, semua tugas itu sangat cocok untuknya. Keuangan negara. Fathan, anak kampung yang paham betul arti sebuah sumur, kini bertugas menjaga agar sumur itu tidak keruh, tidak dikunci untuk segelintir orang, dan setiap tetes airnya bisa dipertanggungjawabkan. Dari Moskow, ia pulang dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.

Kebaikan yang tidak diumumkan

Namun orang tidak akan mengenang Fathan karena jabatannya. Orang akan mengenangnya karena kebaikannya.

Hari-hari ini, cerita tentang Fathan datang dari mana-mana. Ada anak-anak muda yang dulu nyaris berhenti kuliah karena tak sanggup membayar, lalu tiba-tiba urusannya selesai, dan baru belakangan tahu siapa yang menolong. Ada pasangan muda yang ia bantu menyelesaikan urusan rumah tangganya. Ada pula orang-orang yang baru sebentar ia kenal, yang belum sempat berbuat apa-apa untuknya, tetapi sudah ia tolong seperti saudara sendiri.

Fathan tidak pernah mengumumkan kebaikannya. Ia menolong seperti sumur kampung memberi air, tanpa proposal, tanpa syarat, tanpa menunggu balasan. Ia tahu persis rasanya harus berhenti kuliah karena tak ada biaya, dan ia tahu persis bahwa ia bisa kembali kuliah hanya karena ada yang membukakan pintu. Karena itu, setiap kali ada anak muda yang terancam putus kuliah, ia seperti melihat dirinya sendiri. Ia pernah ditolong, lalu memilih menjadi penolong. Ia tidak ingin ada lagi Fathan muda yang pulang ke kampung dengan mimpi yang padam.

Advertisement

Maka, ketika ia dipercaya memimpin PB IKA PMII, rasanya sangat pas. Jauh sebelum ada jabatan yang menyebutnya demikian, ia sudah lama menjadi tempat banyak orang menimba.

Pejuang sesungguhnya

Kita sering memakai kata “pejuang” terlalu ringan dan sering diobral. Dan untuk Fathan, kata itu menemukan maknanya. Ia berjuang tanpa henti, dari kampung ke kampus, dari kampus ke partai, dari partai ke parlemen, dan dari parlemen ke lembaga negara. Ia wafat di negeri yang jauh, dalam perjalanan yang belum selesai. Dari Demak ke Jakarta, dari Jakarta ke Moskow. Perjalanannya panjang, tetapi arahnya tidak pernah berubah yaitu MENGABDI.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, saya ingin mengatakan bahwa Fathan tidak hanya milik kalian. Ia milik ribuan orang yang pernah menimba darinya, kader-kader yang pernah ia besarkan, dan bangsa yang ia layani dengan sungguh-sungguh. Kehilangan ini kita tanggung bersama.

Sumur itu kini mungkin telah kering di dunia. Tetapi airnya sudah mengalir ke ribuan halaman, dan kami yang pernah menimbanya berutang untuk terus mengalirkannya.

Advertisement

Selamat jalan, Sahabat. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal baikmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.

_Muhaimin Iskandar, sahabat almarhum sejak di PB PMII_

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DPR Kawal Penanganan Kesehatan Warga Terdampak Karhutla di Kalimantan Selatan DPR Kawal Penanganan Kesehatan Warga Terdampak Karhutla di Kalimantan Selatan
Politik2 hari ago

DPR RI Kawal Penanganan Kesehatan Warga Terdampak Karhutla di Kalimantan Selatan

Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam penanganan kebakaran hutan...

Digugat ke MK, Pasal 27 dan 164 KUHAP 2025 Beri Kepastian Hukum JPU Wajib Lanjutkan Perkara Digugat ke MK, Pasal 27 dan 164 KUHAP 2025 Beri Kepastian Hukum JPU Wajib Lanjutkan Perkara
Politik2 hari ago

Digugat ke Mahkamah Konstitusi, Pasal 27 dan 164 KUHAP 2025 Beri Kepastian Hukum JPU Wajib Lanjutkan Perkara

DPR RI berpandangan Pasal 27 dan Pasal 164 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara...

Dengar Masukan Pakar, Komisi III Dalami Aspek Pengawasan dalam RUU Perampasan Aset Dengar Masukan Pakar, Komisi III Dalami Aspek Pengawasan dalam RUU Perampasan Aset
Politik2 hari ago

Dengar Masukan Pakar, Komisi III DPR RI Dalami Aspek Pengawasan dalam RUU Perampasan Aset

Komisi III DPR RI terus mendalami berbagai masukan masyarakat dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan Aset Terkait Tindak Pidana...

Tantangan Besar Perlindungan Hak Cipta terkait dengan AI dan Seni Tari Tantangan Besar Perlindungan Hak Cipta terkait dengan AI dan Seni Tari
Politik2 hari ago

Melly Goeslaw Dorong Pelindungan Hak Cipta di Tengah Perkembangan AI

Perkembangan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan baru dalam pelindungan hak cipta, mulai dari potensi penggunaan karya tanpa...

RUU Hak Cipta Harus Jamin Keadilan Ekonomi di Tengah Pesatnya Teknologi Digital dan AI RUU Hak Cipta Harus Jamin Keadilan Ekonomi di Tengah Pesatnya Teknologi Digital dan AI
Politik2 hari ago

Ahmad Doli Kurnia Tandjung: RUU Hak Cipta Harus Jamin Keadilan Ekonomi di Tengah Pesatnya Teknologi Digital dan AI

Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, menyoroti urgensi pembaruan pelindungan karya intelektual yang kian rentan...

MKD DPR Terima Aduan Masyarakat 24 Jam, Verifikasi Laporan Tetap Diperketat MKD DPR Terima Aduan Masyarakat 24 Jam, Verifikasi Laporan Tetap Diperketat
Politik2 hari ago

MKD DPR RI Terima Aduan Masyarakat 24 Jam, Verifikasi Laporan Tetap Diperketat

Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI membuka ruang pengaduan masyarakat selama 24 jam terkait dugaan pelanggaran etik anggota DPR RI....

Titiek Soeharto Apresiasi Capaian Stok Bulog dan Pastikan Kualitas Beras di Ambon Terjaga Titiek Soeharto Apresiasi Capaian Stok Bulog dan Pastikan Kualitas Beras di Ambon Terjaga
Politik3 minggu ago

Titiek Soeharto Apresiasi Capaian Stok Bulog dan Pastikan Kualitas Beras di Ambon Terjaga

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto memastikan ketersediaan dan kualitas stok beras di Provinsi Maluku dalam kondisi aman....

Andre Rosiade Dorong Penguatan Ekosistem Industri Batam Andre Rosiade Dorong Penguatan Ekosistem Industri Batam
Politik3 minggu ago

Andre Rosiade Dorong Penguatan Ekosistem Industri Kota Batam

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mendorong penguatan ekosistem industri di Kota Batam melalui kepastian perizinan, keandalan pasokan...

Komisi XII Ingatkan Kesiapan Listrik Seiring Ekspansi Pariwisata di Bali Komisi XII Ingatkan Kesiapan Listrik Seiring Ekspansi Pariwisata di Bali
Politik3 minggu ago

Melchias Markus Mekeng Dorong Bali Percepat Pengembangan Energi Terbarukan

Ketua Komisi XII DPR RI Melchias Markus Mekeng mengingatkan PT PLN (Persero) agar mengantisipasi kebutuhan listrik Bali dalam jangka panjang...

Komisi XII Dorong Percepatan Pemanfaatan Gas Natuna untuk Batam Komisi XII Dorong Percepatan Pemanfaatan Gas Natuna untuk Batam
Politik3 minggu ago

Jalal Abdul Nasir Dorong Percepatan Pemanfaatan Gas Natuna untuk Batam

Komisi XII DPR RI mendorong percepatan commissioning tahap kedua pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS)-Pemping agar pemanfaatan gas Natuna...