Connect with us

Politik

Kebaya Warisan Budaya Bersama Pemersatu Antarbangsa

JAKARTA (10 Juli): Kebaya merupakan warisan kebudayaan bersama antarbangsa yang berpotensi menjadi instrumen perdamaian dunia.

“Kebaya berkembang melintasi berbagai suku bangsa dan etnis, sehingga berpotensi menjadi karya yang mampu menjadi pemersatu dan mewujudkan perdamaian antarbangsa,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam sambutannya saat membuka diskusi daring bertema Perjalanan Kebaya Indonesia untuk Perdamaian Dunia yang digelar Forum Diskusi Denpasar (FDD) 12 bersama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di Jakarta, Rabu (10/7).

Diskusi yang dimoderatori Luthfi Assyaukanie (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Giwo Rubianto Wiyogo (Ketua Kowani), Ms Hanako Ikeno (Presiden Global Peace Women), Ismunandar (Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Paris), dan Penny Herasati (Direktur Sosial Budaya & Organisasi Internasional Negara-Negara Berkembang, Kementerian Luar Negeri RI) sebagai narasumber. Selain itu hadir pula Indiah Marsaban (Dosen FIB Universitas Indonesia) sebagai penanggap.

Secara historis, jelas Lestari, kebaya merupakan kebudayaan bersama yang tidak hanya dimiliki satu negara saja.

Dalam perspektif sejarah, jelasnya, kebaya berkembang dalam peradaban manusia, mempertemukan ragam suku bangsa dan etnis.

Kebaya juga, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, merepresentasi budaya dan bahasa tertentu, serta dapat diterima sebagai budaya bersama.

Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Jawa Tengah II (Kudus, Demak, Jepara) itu mengungkapkan, berdasarkan catatan sejarah, kebaya terhubung dengan banyak negara pada periode modern. Seperti antara lain Tiongkok, Arab, India, Portugal, Belanda, dan negara-negara sekawasan.

Keterhubungan masa lalu itu terjadi, tambah dia, karena perdagangan rempah dan kerja sama perdagangan lainnya, sehingga menciptakan akulturasi budaya yang diteruskan lintas generasi dalam bentuk fesyen dan bahasa.

Atribut keterhubungan tersebut, tegas anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, menguatkan kebaya sebagai alat diplomasi budaya untuk perdamaian dunia.

Pada kesempatan yang sama, Giwo Rubianto Wiyogo mengungkapkan peringatan Hari Kebaya Nasional yang pertama akan diselenggarakan pada 24 Juli 2024 di Istora Senayan, Jakarta.

Peringatan Hari Kebaya Nasional itu, tegas Giwo, harus dimanfaatkan sebagai momentum meningkatkan persatuan dan perjuangan perempuan Indonesia agar semakin berdaya dan naik kelas.

“Jadikan kebaya sebagai alat pemersatu bangsa dan negara-negara sekawasan,” tegas Giwo.

Hanako Ikeno mengungkapkan, kebaya merupakan metafora dalam pembicaraan di global peace foundation yang selalu berupaya membangun persatuan.

Pasalnya, tegas Hanako, sejumlah negara yang menggunakan kebaya seperti di Indonesia, yakni Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand, saat ini sedang bersama mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO.

Kebaya itu, tegas dia, melampaui batas agama dan etnis, terbukti dengan adanya pengajuan bersama kebaya oleh sejumlah negara ke UNESCO.

Ismunandar mengungkapkan, secara resmi kebaya diajukan bersama menjadi warisan budaya tak benda ke UNESCO pada Maret 2023, prosesnya diperkirakan sekitar dua tahun.

Bila prosesnya lancar, jelas Ismunandar, pengajuan bersama kebaya itu akan disidangkan UNESCO pada Desember tahun ini.

Menurut dia, hingga saat ini 13 warisan budaya Indonesia sudah tercatat di UNESCO. Selain itu, jelas Ismunandar lagi, saat ini Indonesia juga berupaya menginskripsikan Kolintang yang mirip Balafon, alat musik kayu dari Afrika dan Mali yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Ismunandar berpendapat, upaya untuk mendaftarkan warisan budaya ke UNESCO penting bagi sebuah negara.

Selain sebagai bagian tanggung jawab negara dalam melestarikan budaya, jelas dia, juga bisa dimanfaatkan sebagai alat diplomasi hingga ekonomi.

Indiah Marsaban berpendapat, kebaya memiliki nilai yang mempersatukan dan mewujudkan perdamaian.

Di Indonesia, tegas Indiah, mulai mbok jamu sampai Ibu Negara memakai kebaya, sehingga kebaya menjadi egaliter dan inklusif. Siapa saja bisa memakai kebaya.

Sebuah warisan budaya yang sudah tercatat di UNESCO, tambah dia, jika tidak dijaga, dirawat, dan dilestarikan, bisa tidak diakui bila budaya itu tidak hidup lagi.

Pada kesempatan itu, wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat diskusi tentang kebaya menambah pengetahuan kita.

Memakai kebaya, menurut Saur, selain mencerminkan sikap egaliter dan inklusif, juga estetis.

Bergabungnya Indonesia dengan empat negara lain dalam pengajuan kebaya sebagai warisan budaya tak benda, jelas Saur, memperlihatkan solidaritas dan memperkuat kebaya sebagai alat diplomasi.

Saur berharap, pada peringatan Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli mendatang, banyak orang yang berkebaya dan menjadikan kebaya pakaian keseharian.

Dengan didaftarkannya kebaya ke UNESCO dan ditetapkannya Hari Kebaya Nasional, tegas Suar, memperkuat makna kebaya dalam kehidupan berbangsa. (*)

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *