Internasional
Profesor AS Dipecat dari Kampus Akibat Status Facebook, ‘Ledek’ Presiden Donald Trump?
Kabarpolitik.com.COM – Peringatan bagi Anda yang suka menulis status di laman media sosial seperti facebook. Apalagi jika mengungkap kekesalan atau menyampaikan satire berlebihan kepada kepala negara. Bisa-bisa Anda kehilangan pekerjaan yang sudah Anda bangun belasan tahun dalam sekejap mata.
Mengutip the guardian, kasus pemecatan itu dialami Profesor Asheen Phansey, yang sudah 15 tahun mengabdi di salah satu perguruan tinggi swasta di Massachusetts. Sebelum dipecat pihak kampus, Asheen melalui laman facebooknya menuliskan satire menyindir Trump “seharusnya 52 situs budaya Iran” dibom saja.
Status facebook itu ia akui sebagai “lelucon” untuk menyindir “ketidaktahuan” Donald Trump bahwa situs budaya tidak bisa begitu saja dihancurkan. Donald Trump sendiri diketahui pada 4 Januari mengatakan, bahwa AS telah menargetkan 52 situs budaya Iran untuk dihancurkan sebagi peringatan kepada Iran untuk tidak melakukan serangan balasan ke Amerika setelah pesawat tanpa awak AS membunuh jenderal top Iran, Qassem Soleimani.
Namun, setelah ancaman yang dicuitkan melalui twiternya, Trump tampaknya mengurungkan niatnya, karena serangan terhadap kekayaan budaya merupakan pelanggaran terhadap aturan perang seperti tertuang dalam Konvensi Den Haag.
“[Pemimpin Tertinggi Iran] harus merilis daftar 52 situs warisan budaya Amerika yang akan dibom … Um … Mall of America? … Kediaman Kardashian? ” tulis Asheen di laman facebooknya.
Meski postingan Facebook Asheen langsung dihapus, tapi pihak kampus Babson College langsung melakukan penyelidikan. Setelah penyelidikan itu, Asheen Phansey pun meminta maaf melalui pengacaranya terkait postingannya ini. Ia mengatakan, postingan itu adalah ‘ledekan’ yang buruk darinya untuk mengolok-olok kurangnya pengetahuan Amerika Serikat soal sejarah.
Ia juga menegaskan jika postingan itu humor yang buruk. “Saya menyesal humor ceroboh saya dibaca sebagai ancaman… Saya benar-benar menentang kekerasan dan tidak akan pernah membiarkan siapa pun (melakukan kekerasan),” katanya.
Diketahui, pada Kamis (9/1/2020), Babson College mengumumkan bahwa Phansey tidak lagi dipekerjakan oleh perguruan tinggi tersebut, menyusul hasil penyelidikan atas posting Facebook-nya. Pernyataan itu berbunyi: “[Posting Facebook] tidak mewakili nilai-nilai dan budaya College. Babson College mengutuk segala jenis kata-kata dan / atau tindakan yang mengancam kekerasan dan / atau kebencian, ” jelas pihak Babson College.
Usai pemecatan itu, Phansey merilis pernyataan pada Kamis malam, dan mengatakan bahwa dia “kecewa” pada keputusan kampus memberhentikan dia dari pekerjaannya. “Saya kecewa dan sedih bahwa Babson telah memutuskan untuk tiba-tiba mengakhiri hubungan 15 tahun saya dengan perguruan tinggi, hanya karena orang-orang sengaja salah menafsirkan lelucon yang saya buat untuk teman-teman saya di Facebook,” kata Phansey.
Dia mengatakan bahwa dia mencintai lembaga itu, dan begitu mencintai kampusnya. Dia berharap tadinya kampus akan membela dia. Phanset menambahkan bahwa kejadian itu membuatnya prihatin tentang kebebasan berbicara.{asa}
rn
Sourcern


