Opini
Kian Meriah
Oleh: Dahlan IskanrnTrump untuk Amerika.rnXi Jinping untuk Tiongkok.rnBoris Johnson untuk siapa?rnMerekalah pemimpin yang sangat fokus memikirkan nasib negara masing-masing. Tidak peduli: apakah strategi mereka merusak negara lain.rnSebenarnya bisa juga ditambahkan:rnVladimir Putin untuk Rusia.rnModi untuk India.rnKim Jong-Un untuk Korea Utara.rnMungkin juga Mahathir untuk Malaysia. Dulu.rnBegitu mudah bagi Johnson untuk mengatakan: tidak peduli pakai ‘deal’ atau ‘no deal’ pokoknya 99 hari lagi Inggris sudah keluar dari Eropa.rn”Mungkin tidak menunggu sampai 99 hari. Kan sudah terlalu lama menunggunya,” katanya di hari pertama menjadi Perdana Menteri Inggris, Kamis (25/7).rnKeputusan Inggris keluar dari Uni Eropa itu memang sudah dua tahun. Rakyat yang memutuskannya –lewat pemilu referendum. Pelaksanaannya molor terus. Terganggu masalah-masalah teknis di lapangan.rnMisalnya: bagaimana arus barang dan manusia dari Eropa ke Inggris. Khususnya di daratan Irlandia.rnDaratan selatan adalah negara Irlandia. Daratan utara adalah Inggris Raya. Yang selama ini seperti tidak ada batas. Lalu-lintas bebas. Tanpa pemeriksaan apa-apa.rnApakah tiba-tiba akan ada kantor imigrasi di perbatasan itu? Lalu ada pemeriksaan bea cukai?rn”Kita atasi dengan akal sehat,” kata Johnson. Enteng saja. Meski biasanya yang sulit itu justru ketika memasuki detil-detilnya.rnInilah yang membuat Johnson mirip Trump. Mudah melontarkan gebrakan. Juga sangat mencintai namanya sendiri.rnJohnson juga akan terus menjadi bintang di media. Apa pun dampaknya.rnJohnson juga senang main kata-kata. Senang mengejek orang. Senang menyerang balik. Tipis kulit dan telinganya.rnNamun ada jenakanya. Dan lebih intelektual — khas Inggris.rnMisalnya saat Johnson jadi wali kota London. Yang begitu banyak berbuat. Selama delapan tahun.rnWaktu itu Trump bilang ‘London bisa tidak jadi pilihan untuk dikunjungi karena Islam radikalnya’. Trump belum jadi presiden saat mengatakan itu. Capres pun belum.rnJohnson langsung membalas. “Orang tidak akan mau ke New York. Takut ketemuan Trump di salah satu pojok kotanya.”rnJohnson sendiri lahir di New York. Ayahnya Inggris. Ibunya pelukis terkenal Amerika.rnKelahiran bayi Johnson didaftarkan juga di konsulat Inggris. Agar bisa mendapat dua kewarganegaraan.rnPintar, nakal, mbeling dan urakan. Itulah masa remaja Johnson.rnIa sekolah di SMA yang didirikan raja Inggris di tahun 1440-an. Menjelang akhir masa kejayaan Majapahit.rnIa ingin lulus No. 1 tetapi hanya berhasil No. 1 untuk kelompok di bawah level terbaik.rnJohnson sudah ahli debat sejak sekolah. Lalu jadi aktivis mahasiswa. Kemudian jadi wartawan.rnPindah-pindah koran. Juga pindah dari istri pertama ke wanita kedua. Akhirnya jadi anggota DPR dari partai konservatif.rnKini Johnson perdana menteri.rnSusunan kabinet barunya didominasi aktivis Brexit — gerakan keluar dari Eropa. Yang membuat sebagian orang Inggris waswas. Jangan-jangan akan terjadi gejolak ekonomi yang keras — hard landing.rnDari susunan menterinya ada nama Sajid Javid. Ayahnya imigran dari Pakistan. Jadi sopir bus di Inggris. Saat datang ke Inggris ibunya belum bisa bahasa Inggris sama sekali.rnJavid kawin dengan aktivis gereja, tetapi tidak ikut menjadi Kristen. Secara terbuka Javid mengatakan ‘tidak beragama apa pun’.rnMenteri keuangannya anak muda: Rishi Sunak. Umur 39 tahun. Keturunan India. Anak orang kaya raya. Saat ini pun bapaknya masih konglomerat di India.rnSesaat sebelum menjadi perdana menteri Johnson memberikan wawancara khusus untuk TV Hong Kong. Isinya agak mengagetkan.rnTidak seperti kesan galaknya: ia akan menjalin hubungan lebih erat dengan Tiongkok. Ia sangat memuji program OBOR — One Belt One Road-nya Xi Jinping.rn”Kami sangat terbuka pada modal mana saja. Termasuk dari Tiongkok. Buktinya Tiongkok lagi membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Inggris. Dengan teknologi Tiongkok.”rn”Anak perempuan saya sendiri baru kembali dari Tiongkok,” katanya. “Di sana dia belajar bahasa Mandarin. Katanya sulit sekali tetapi penting,” ujar Johnson.rnJohnson akhirnya naik panggung. Pertunjukan di panggung dunia akan kian meriah. Di mana-mana. (***)


