Nasional
Pembakaran Bendera Tauhid, PRIMA DMI: itu Bida Memantik Perpecahan
Kabarpolitik.com, JAKARTA — Aksi pembakaran Bendera Tauhid di Garut pada Senin 22/10 lalu menimbulkan gelombang protes di masyarakat Perhimpunan Remaja Masjid – Dewan Masjid Indonesia (PRIMA DMI) pun angkat suara.
Ketua Umum Prima DMI, Ahmad Arafat Aminullah, menyayangkan tindakan pembakaran itu. Karena menurutnya, hal itu bisa memantik perpecahan dan keributan di masyarakat.
Menurut Arafat, meruncingnya pertentangan, ketidaksepahaman, dan berujung pada persekusi yang terjadi di antara pemeluk satu agama hanya karena perbedaan mazhab, interpretasi maupun kontekstualisasi yang ada adalah faktor pelemah kesatuan.
“Hal itu (pembakaran bendera tauhid) menurut kami tidak dibenarkan. Kami menyayangkan tindakan itu. Hal itu melukai perasaan umat islam. Dengan kejadian itu, umat islam bisa saling hujat dan terpecah,” ujarnya.
Dalam jangka panjang dan hingga kapanpun juga, jika tiada lagi rasa percaya antar kelompok satu agama, antar sesama pemeluk agama; apalagi antar-pemeluk agama yang berbeda maka ini adalah ancaman nyata dan fundamental terhadap eksistensi bangsa.
Namun meski demikian, Arafat tetap menghimbau kepada masyarakat khususnya umat islam agar bersikap tenang dan tidak mudah terprovokasi. Ia berharap kejadian tersebut disikapi dengan kepala dingin agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Hal senada diungkapkan Wakil Ketua Umum Prima DMI, Muhammad Jamil, di Masjid Agung Al Azhar Jakarta Selatan (24/10/2018).
Menurut Jamil, kejadian tersebut mengkhawatirkan, hal itu bisa menimbulkan gelombang aksi yang besar dan bisa berbuntut panjang.
“Kita percayakan kepada aparat berwenang untuk mengusut tuntas kasus ini dengan seadil-adilnya. Kita percayakanlah kepada mereka. Kita yakin kepolisian pasti bisa profesional. Mari kita semua menjaga situasi agar tetap aman dan damai. Tokoh agama, tokoh pemuda agar menjadi penyejuk ditengah-tengah masyarakat,” ujar Jamil. (*)
rn
source


