Nasional
Banjir Tasikmalaya Renggut 7 Nyawa, 4 Desa Terisolasi
Kabarpolitik.com, TASIKMALAYA – Suara gemuruh itu mengagetkan sekaligus membangunkan warga di tepi Sungai Ciandum, Tasikmalaya. Kepanikan pun tak terelakkan. Sebab, begitu mereka terbangun, air bah datang menerjang kampung mereka. Tujuh orang meninggal tersapu banjir bandang. Jembatan penghubung Tasikmalaya-Garut pun roboh.
Dan suara gemuruh yang didengar warga Selasa dini hari (6/11) sekitar pukul 03.00 itu adalah suara robohnya jembatan tersebut. “Suaranya seperti terjadi gempa,” ungkap Etih, salah satu warga Ciandum, Cipatujah, Tasikmalaya.
Suaranya semakin keras lantaran bersamaan dengan semakin derasnya arus Sungai Ciandum. Saking derasnya, air sungai meluap. Perempuan 44 tahun itu menyebut luapan air bahkan melebihi atap rumah. “Sepanjang yang saya ketahui, ini yang paling besar (arus, Red) airnya,” ungkapnya.
Sepanjang Senin sore (5/11) hingga malam, hujan deras mengguyur wilayah Tasikmalaya. Hujan deras itu mengakibatkan banjir bandang dan longsor di tiga kecamatan, yakni Cipatujah, Karangnunggal, dan Culamega.
Berdasar informasi yang dikumpulkan Radar Tasikmalaya (Jawa Pos Group) hingga Selasa pukul 16.00, ada tujuh warga yang meninggal karen tersapu banjir bandang. Tiga korban ditemukan di Culamega. Ketiganya adalah Mardin, 52; Aning, 52; dan seorang anak perempuan berusia 8 tahun bernama Elsa. Satu korban meninggal bernama Odin, 43, ditemukan di Karangnunggal.
Tiga korban meninggal lainnya ditemukan di Cipatujah. Di antara tiga korban meninggal tersebut, baru satu yang teridentifikasi, yakni Sap’in, 40. Dua lainnya belum diketahui identitasnya. Satu perempuan dan satu laki-laki. “Itu (identitas korban) belum bisa kami nyatakan siapa,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tasikmalaya Wawan Ridwan Effendi.
Selain telah merenggut tujuh nyawa, banjir bandang itu juga mengakibatkan empat desa terisolasi. Yaitu, Desa Ciandum, Ciheras, Pameutingan, dan Sukahurip.
Desa-desa tersebut terisolasi lantaran jembatan sepanjang 70 meter penghubung Tasikmalaya-Garut di Cipatujah roboh. “Tidak ada jalan alternatif kecuali berputar ke Garut,” paparnya.
Untuk jumlah rumah dan lahan yang terendam, BPBD belum bisa memastikan. Sebab, mereka masih melakukan pendataan. Selain itu, mereka sibuk melakukan evakuasi. Sejauh ini terdapat 300 kepala keluarga (KK) di Culamega, 150 KK di Karangnunggal, dan 100 KK di Cipatujah yang berusaha dievakuasi BPBD.
Evakuasi tidaklah mudah. Selain jembatan roboh, mereka sulit berkoordinasi lantaran jaringan komunikasi putus. “Sejak malam (Senin) listrik juga padam,” sebut Wawan. (ujg/JPG/c5/fim/JPC)
rn
source


