Politik
Fraksi Gerindra Gelar FGD RUU Sisdiknas, Serap Masukan Akademisi dan Praktisi Pendidikan
Published
2 jam agoon
Fraksi Partai Gerindra DPR RI menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) di Ruang Badan Musyawarah DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Mengusung tema “Menata Ulang Sistem Pendidikan melalui RUU Sisdiknas: Mutu, Pemerataan, Guru dan Dosen, serta Masa Depan Pembelajaran”, forum ini menjadi ruang untuk menyerap pandangan akademisi dan praktisi pendidikan.
Kegiatan diawali sambutan Kapoksi Gerindra Komisi X DPR RI, Ali Zamroni dan dilanjutkan keynote speech sekaligus pembukaan oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah. Sejumlah Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Gerindra turut hadir, yakni Dhani Ahmad Prasetyo, Ruby Chairani Syiffadia, La Tinro La Tunrung, dan Melly Goeslaw.
Ali Zamroni mengatakan, UU Sisdiknas yang telah berlaku selama lebih dari dua dekade perlu disempurnakan agar mampu menjawab perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
“RUU ini sudah 23 tahun, pasti perlu penyempurnaan di tengah perkembangan zaman yang luar biasa,” ujar Ali.
Ia menjelaskan, Komisi X DPR RI telah menyepakati penggunaan pendekatan kodifikasi dalam penyusunan RUU Sisdiknas. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menyatukan berbagai ketentuan pendidikan secara lebih terpadu, sistematis, dan komprehensif.
Menurut Ali, pembahasan RUU masih berlangsung dengan melibatkan pakar, akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan pendidikan. Ia berharap masukan dari berbagai pihak dapat memperkuat substansi RUU sehingga mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kita berharap acara ini menghasilkan masukan yang baik dan dapat ditarik benang merahnya. Kita berharap ketika selesai, undang-undang ini sudah menjawab semua yang diinginkan oleh masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Himmatul Aliyah menilai penting untuk kembali menyisir substansi RUU Sisdiknas agar tidak ada poin penting yang terlewat. Ia mengatakan, masukan dari berbagai kunjungan kerja dan dialog dengan masyarakat menunjukkan masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperiksa dan diakomodasi.
“Kami dari anggota Panja DPR RUU Sisdiknas merasa penting untuk menyisir kembali apa yang sudah dan belum. Ternyata ada yang luput dan ada yang hilang. Jangan sampai poin yang bagus hilang,” ucapnya.
Himmatul menyebut sejumlah agenda pendidikan masa depan perlu mendapat perhatian, antara lain wajib belajar 13 tahun, transformasi digital dan kecerdasan artifisial, pembelajaran sepanjang hayat, serta peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan berbasis data. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidik sejak jenjang pendidikan anak usia dini.
Dalam forum tersebut, sejumlah akademisi dan praktisi turut memberikan masukan. Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini mendukung pendekatan kodifikasi dan menekankan perlunya batasan yang jelas mengenai komponen yang masuk dalam alokasi 20 persen anggaran pendidikan.
Guru Besar IPB sekaligus Rektor Institut Agama Islam Sahid Bogor Farah Fahma menyoroti perlunya sistem pendidikan tinggi nasional yang memberikan perlakuan setara bagi perguruan tinggi, dengan tetap menghormati perbedaan misi masing-masing lembaga.
Sementara itu, Prof. Dr. Retno Purwani Setyaningrum menekankan pentingnya mengurangi kesenjangan infrastruktur dan akses pendidikan antara perkotaan dan wilayah 3T. Ia juga mendorong penguatan pendidikan inklusif, termasuk bagi penyandang disabilitas serta kelompok minoritas dan penghayat kepercayaan.
Dari perspektif pendidikan swasta, Ketua Yayasan Perguruan Sumbangsih dr. Paramita Sudharto mendorong adanya perlindungan dan kepastian bagi sekolah swasta, terutama yang melayani masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Perlindungan tersebut mencakup tata kelola yayasan, legalitas kelembagaan, serta keberlanjutan peserta didik.
FGD yang dimoderatori Tenaga Ahli Fraksi Gerindra Komisi X DPR RI Dr. Ririn Wulandari tersebut diharapkan menghasilkan masukan untuk memperkaya pembahasan RUU Sisdiknas. Berbagai pandangan yang disampaikan akan menjadi bahan bagi Fraksi Gerindra dan Panitia Kerja RUU Sisdiknas dalam menyempurnakan substansi rancangan undang-undang.
You may like
Resmikan LRT Kelapa Gading–Manggarai, Presiden Prabowo: Bukti Pusat dan Daerah Bisa Gotong Royong
Peduli Warga Terdampak Kekeringan, PP PIRA Salurkan Bantuan Air Bersih di Sejumlah Daerah
Fraksi Gerindra Gelar FGD RUU Sisdiknas, Serap Masukan Akademisi dan Praktisi Pendidikan
Rokhmat Ardiyan Minta RKAB Batubara Tak Ganggu Pasokan Energi Nasional
Bambang Haryadi: Anggaran Rp974,84 Miliar Harus Percepat Investasi dan Hilirisasi
Stok BBM Nasional Aman, Ramson Siagian Minta Distribusi Diperketat
Baleg Bahas Reforma Agraria, Azis Subekti Tekankan Kepastian Hak atas Tanah
Bob Hasan: RUU Komoditas Strategis Harus Tutup Celah Kebocoran Negara
Dedi Mulyadi Tak Bisa Maju Capres 2029 dari Gerindra, Tiket Sudah Diberikan kepada Prabowo?
Turn Back Hoax: [SALAH] Gambar Detik.com Ganjar Menonton Video Bokep
Kalender November 2025: Tanggal Merah, Hari Besar, Weton Jawa dan Hijriah
Sosok Airlangga Masih Dibutuhkan Golkar
Opini Newsmax, Prabowo dan Peluang Kemakmuran untuk Indonesia
Dunia Butuh Generasi Muda Bahagia, Tangguh dan Sehat Jiwa
Abdul Wachid: Komisi VIII DPR Setujui Tambahan Anggaran BPJPH dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Prabowo Subianto Pernah Tolak Kapal Perang Iran di MNEK 2025 karena Tekanan Amerika Serikat?

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Kaisar Abu Hanifah: Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri
Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, menyoroti rencana pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara yang akan mengimpor 105.000...
Modus Hindari Pembayaran THR, Zainul Munasichin: Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!
Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, merespons komitmen PT Karunia Alam Segar sebagai produsen Mie Sedaap di Gresik, Jawa Timur,...
Terkait Polemik Paspor Asing, Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer
Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo menyoroti polemik yang melibatkan influencer Dwi Sasetyaningtyas setelah pernyataannya terkait kebanggaan memiliki...
Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Masih Adanya Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim
Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Nur Purnamasidi menyoroti masih adanya paradoks dalam pembangunan kepemudaan di Provinsi Jawa Timur. Meskipun...
Darori Wonodipuro Dorong RUU Komoditas Strategis Selaras Aturan Perdagangan Internasional
Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menekankan pentingnya penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Komoditas Strategis yang selaras dengan aturan perdagangan internasional...
Lestari Moerdijat: Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong
Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan kolaborasi antara pemuda terdidik dan komunitas penggerak akar rumput, sebagai upaya...
Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara
Anggota Komisi II DPR RI Komarudin Watubun menegaskan pentingnya penanganan serius terhadap wilayah perbatasan negara melalui pembentukan Panitia Khusus (Pansus)...
Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa
Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendorong agar kebijakan dan program kepemudaan tidak hanya berfokus pada kalangan mahasiswa,...
Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara
Anggota Komisi II DPR RI Taufan Pawe menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan perbatasan Papua yang komprehensif dan berkelanjutan agar masyarakat benar-benar...
Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang
Komisi XI DPR RI menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja penerimaan negara tahun 2025 sebagai pijakan kebijakan fiskal di tahun...

