Connect with us

Nasional

Gulai Cham

Published

on

Oleh Dahlan Iskan

Kabarpolitik.com–“Masjid near me,” tulis saya di Google Search.

Muncullah nama dan lokasi beberapa masjid, tetapi jarak yang terdekat 60 km. Padahal waktu buka puasa tinggal satu jam lagi.

Saya memang lagi di kota Biên Hòa saat itu. Sebuah kota kecil. Pusat industri yang sangat besar di Vietnam. Sekitar 60 km dari Ho Chi Minh City.

Tidak mungkin buka puasa bersama.

Dua hari kemudian saya buka Google Search lagi.

Advertisement

“Masjid near me.”

Jawabannya lebih tidak terjangkau. Yang terdekat hampir 200 km.

Saat itu saya sudah pindah ke kota Nha Trang. Di tengah Vietnam. Kota kecil yang lagi bangkit. Dengan potensi wisata pantainya.

Saya naik kereta dari Biên Hòa ke Nha Trang: 7 jam. Mirip kereta kita 15 tahun yang lalu.

Dari delapan gerbong itu separuh masih pakai kursi kayu. Keras.

Separuh lagi pakai kursi empuk. Yang mirip eksekutif. Kursinya bisa disetel derajat tegaknya.

Advertisement

Melihat kanan-kiri rel perasaan saya seperti ketika melintas di Flores tengah. Tanahnya kering. Sepanjang jalan yang terlihat hanya pohon jambu mente. Tanahnya berbatu.

Beda sekali dengan wilayah selatan Vietnam. Yang sangat subur. Sepanjang mata memandang hanya sawah dan sawah. Vietnam surplus beras selama ini.

Di Nha Trang saya juga tidak bisa buka bersama. Saya masih ingin ke utara lagi. Ke sebuah kota yang di zaman kuno bernama Indrapura. Kota Indrapura di Vietnam!

Untuk ke Indrapura harus melewati kota kecil yang dulu bernama Vijaya. Yakni di zaman Majapahit.

Saya pernah ke kota itu. Yakni saat saya ke H?i An. Yang pernah menjadi kota terbesar di Asia Tenggara. Mengalahkan Batavia, Siam, Temasek, Srivijaya dan seterusnya. Kini H?i An hanya kota kecamatan yang amat kecil.

Advertisement

Kota Indrapura itu sendiri sekarang bernama Da Nang. Posisi di Vietnam-nya tepat di tengah. Antara ujung selatan Vietnam dan ujung utara. Yang pernah jadi pangkalan terbesar tentara Amerika. Saat terjadi Perang Vietnam tahun 1968-1975.

Jatuhnya Da Nang ke tangan Vietkong menjadi awal kekalahan Amerika di Perang Vietnam. Pesawat-pesawat pengebom Amerika yang parkir di Bandara Da Nang diterbangkan ke arah Biên Hòa dan Saigon. Dengan pilot yang sudah membelot. Mengebom pesawat-pesawat Amerika sendiri di Biên Hòa.

Ketika kota Da Nang masih bernama Indrapura belum ada Google. Seandainya sudah ada jawaban “Masjid near me” pasti “500 meter”. Atau “1 km”. Paling jauh.

Zaman itu, abad ke-7, Indrapura masih menjadi bagian dari Kerajaan Cham. Yang dalam buku sejarah kita kenal dengan Champa. Yang salah satu putri tercantiknya diperistri raja ketujuh Majapahit.

Nama kota Vijaya sendiri senasib dengan Indrapura. Hanya dikenal dalam sejarah. Kota Vijaya sekarang hanya dikenal sebagai Quy Nh?n.

Advertisement

Sudah sulit cari masjid di wilayah tengah Vietnam.

“Masjid near me,” tulis saya di Google Search. Tiga hari kemudian.

“1,2 Km,” jawab Google.

Saya kaget. Begitu dekatnya. Bisa jalan kaki. Waktunya masih cukup. Buka puasa baru satu jam lagi.

Saat itu saya memang sudah pindah kota: Ho Chi Minh City. Yang dulu bernama Saigon.

Masjid terdekat itu ternyata di pusat kota. Seandainya saya jadi menginap di Sheraton Saigon Hotel & Towers, azannya pun bisa kedengaran dari hotel. Masjid itu menempel di dinding utara Sheraton.

Advertisement

Hari itu saya sulit cari hotel. Sheraton pun penuh. Saat ke Sheraton saya tidak memperhatikan: ada masjid di sebelah temboknya.

Halaman masjid itu cukup luas. Saya ikut duduk-duduk di halaman itu. Di kursi kosong yang sebenarnya tempat satpam.

Tiga kursi lagi sudah diduduki –dugaan saya- orang yang juga ingin berbuka puasa gratis di masjid itu.

“Assalamualaikum,” sapa saya.

Tiga orang itu serentak menjawab salam saya. Salah satunya bertopi putih. Berbaju panjang. Berjenggot. Masih sangat muda.

Saya sulit ngobrol dengan mereka. Tidak ada yang bisa berbahasa Inggris.

Advertisement

Saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia. Yang bertopi putih itu langsung serius. Seperti sedang berpikir keras.

“Apa kabar,” katanya tiba-tiba.

Rupanya ia tadi berpikir keras untuk mengingat sejumlah kata dalam Bahasa Indonesia.

“Kabar baik,” jawab saya. “Bisa berbahasa Indonesia?“ tanya saya.

“Bi.. bi.. sa.. Melayu. Sikik,” jawabnya dengan susah payah.

Kian senja kian banyak yang masuk halaman masjid. Salah satunya menyapa saya. Yang bertopi putih itu memperkenalkan saya dari Indonesia.

Yang baru datang itu langsung nyerocos. Cakap Melayu. Lancar sekali. Namanya: Asy’ari bin Ismail.

Advertisement

“Kami ini orang Cham,” katanya. “Ia bukan orang sini,” tambahnya sambil menunjuk yang bertopi putih. “Ia ini orang Tabligh.”

Ternyata ada juga Jamaah Tabligh di Vietnam yang komunis. Yang kalau di Jakarta pusatnya di Masjid Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk.

“Kami ada 13 orang Tabligh di masjid ini. Besok sudah akan pindah ke daerah lain,” ujar si topi putih lewat penerjemah Melayu.

Suku Cham sekarang sudah sangat minoritas di Vietnam. Tinggal sekitar 5 persen. Atau sekitar 4 juta orang.

Umumnya tinggal di wilayah paling Selatan Vietnam. Yang berbatasan dengan wilayah paling Selatan Kamboja. Yang juga banyak suku Cham-nya.

Suku Cham inilah yang umumnya beragama Islam. Ahlussunnah waljamaah. Sebelum berbuka tahlil bersama dulu.

Dulunya Kerajaan Cham sangat luas. Mencakup Vietnam selatan, Kamboja, sebagian timur Thailand dan semenanjung Malaysia.

Advertisement

Kerajaan Cham berbahasa Melayu Lama. Kini tinggal sembilan kecamatan yang masih terbiasa dengan Bahasa Melayu.

Sambil tahlil kita sudah duduk berbaris berhadapan. Di teras masjid. Menghadap makanan di piring: kurma, ote-ote polos, dan pisang Ambon.

Saya makan pisang dan ote-ote. Kurmanya biar di makan orang di depan saya. Hanya dua butir.

Waktu saya masuk masjid terlihat tiga anak muda memperhatikan saya. Lalu saling berisik. Saya salami mereka.

“Pak Dahlan Iskan ya?“ tanyanya. “Tadi kami tidak yakin. Sekarang yakin. Ada tahi lalat di bawah mata,” katanya.

Ternyata mereka tadi googling. Saat saya masih ngobrol di halaman. Cari foto saya. Untuk mencari tahi lalat itu.

Advertisement

Mereka ternyata Syafin Kurniawan (ITS kimia), Muhibudin (Unlam Banjarmasin) dan Dani Hamdani (Unisba Bandung). Lagi rapat di Ho Chi Minh. Mewakili perusahaan mereka Garuda Food.

Belakangan datang lagi dua anak muda Indonesia: Irvan Effendi dan Bambang Irwanto. “Kami lagi visit customer,” ujar Irvan, dari pabrik kertas rokok di Karawang.

Banyak perusahaan rokok di Vietnam yang ternyata pakai kertas dari pabrik grup Djarum itu.

Menyesal Gwadar

Sehabis salat maghrib saya bergegas balik ke hotel. Ada acara yang harus saya penuhi. Orang Cham tadi mengejar saya: harus ikut makan bersama.

Saya tetap pamitan. Ia tampak kecewa. Lalu lari ke arah dapur. Mengambil makanan. Agar saya membawanya. Saya cium aromanya: nasi dan gulai kambing. (***)

Advertisement

rn

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri
Politik7 bulan ago

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Kaisar Abu Hanifah: Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri

Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, menyoroti rencana pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara yang akan mengimpor 105.000...

Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan! Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!
Politik7 bulan ago

Modus Hindari Pembayaran THR, Zainul Munasichin: Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!

Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, merespons komitmen PT Karunia Alam Segar sebagai produsen Mie Sedaap di Gresik, Jawa Timur,...

Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing
Politik7 bulan ago

Terkait Polemik Paspor Asing, Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer

Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo menyoroti polemik yang melibatkan influencer Dwi Sasetyaningtyas setelah pernyataannya terkait kebanggaan memiliki...

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim
Politik8 bulan ago

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Masih Adanya Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim

Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Nur Purnamasidi menyoroti masih adanya paradoks dalam pembangunan kepemudaan di Provinsi Jawa Timur. Meskipun...

Darori Wonodipuro Darori Wonodipuro
Politik8 bulan ago

Darori Wonodipuro Dorong RUU Komoditas Strategis Selaras Aturan Perdagangan Internasional

Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menekankan pentingnya penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Komoditas Strategis yang selaras dengan aturan perdagangan internasional...

Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong
Politik8 bulan ago

Lestari Moerdijat: Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong

Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan kolaborasi antara pemuda terdidik dan komunitas penggerak akar rumput, sebagai upaya...

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara
Politik8 bulan ago

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara

Anggota Komisi II DPR RI Komarudin Watubun menegaskan pentingnya penanganan serius terhadap wilayah perbatasan negara melalui pembentukan Panitia Khusus (Pansus)...

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa
Politik8 bulan ago

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendorong agar kebijakan dan program kepemudaan tidak hanya berfokus pada kalangan mahasiswa,...

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara
Politik8 bulan ago

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara

Anggota Komisi II DPR RI Taufan Pawe menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan perbatasan Papua yang komprehensif dan berkelanjutan agar masyarakat benar-benar...

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang
Politik8 bulan ago

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang

Komisi XI DPR RI menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja penerimaan negara tahun 2025 sebagai pijakan kebijakan fiskal di tahun...