Connect with us

Politik

Willy Aditya: Dewan Bukan Sopir Angkot yang Kejar Setoran UU

Published

on

JAKARTA (26 Januari): Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Willy Aditya menegaskan bahwa kinerja legislasi di DPR RI tentu tidak bisa memuaskan semua pihak. Pasalnya, DPR bukanlah lembaga pemuas kepentingan, bukan juga sopir angkot yang harus kejar setoran undang-undang.

“Baleg DPR perlu menyampaikan beberapa dinamika secara khusus terkait pencapaian dialektika dan pasang surut proses legislasi di Senayan,” ungkap Willy Aditya saat menyampaikan materi secara daring dalam Forum Group Discussion (FGD) DPR REWIND 2023 bertema ‘Menilik Belakang Panggung Perwakilan Rakyat, Membedah Kinerja DPR 2023’ yang berlangsung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (25/1).

Dijelaskan Willy, tahun lalu (2022), DPR menghasilkan 18 produk undang-undang dari target 39 produk legislasi nasional. Angka itu masih jauh dari target legislasi yang dicanangkan, tapi bukan berarti kinerja dewan dalam menghasilkan undang-undang tidak memuaskan.

“Asumsinya, selalu saja kita seperti sopir angkot yang harus dikejar, yang harus diburu dengan setoran-setoran berapa undang-undang yang sudah diselesaikan. Kita kadang-kadang lupa bagaimana kualitas dari produk perundang-undangan yang kita lahirkan,” keluhnya.

Ditegaskan Willy, dari 18 produk undang-undang yang berhasil disahkan menjadi undang-undang, ada beberapa milestone penting yang cukup berpengaruh dalam kehidupan bernegara kita.

Pertama, bagaimana dewan berhasil meletakkan atau mengesahkan Undang-Undang Omnibuslaw Sektor Kesehatan.

“Ini merupakan undang-undang omnibuslaw ketiga setelah UU Cipta Kerja dan UU Omnibuslaw Sektor Keuangan,” jelas Willy.

Ditambahkannya, dalam UU Omnibuslaw Sektor Kesehatan, DPR bersama pemerintah berhasil merangkum sembilan undang-undang kesehatan menjadi suatu undang-undang.

Advertisement

Itu merupakan sebuah lompatan sangat strategis dalam sektor kesehatan bagi rakyat Indonesia. Undang-undang itu belajar dari best practice di banyak negara di mana pendidikan kedokteran harus base on hospital, rumah sakitlah yang menjadi kawah candradimuka-nya.

“Di sana, kampus bukan lagi satu-satunya unit untuk menyelenggarakan pendidikan tapi bagaimana antara teori dan praktik terkoneksi link and match secara langsung. Dan kita bisa mematahkan adegium pendidikan sebagai menara gading,” paparnya.

Poin kedua dari UU Kesehatan yang sangat progresif itu, tambah Willy, bagaimana anak-anak didik, mahasiswa dari daerah mendapatkan beasiswa dan kemudian dikembalikan ke daerah yang mengirim mereka. itu merupakan obligasi yang banyak dituntut masyarakat.

Legislator NasDem dari Dapil Jawa Timur XI (Bangkalan, Pamekasan, Sampang, Sumenep) itu juga mengatakan, selama ini distribusi tenaga kesehatan, khususnya dokter sangat tersentral di Jawa atau di beberapa wwilayah saja. Akibatnya, ada puskesmas tapi tidak memiliki dokter apalagi dokter spesialis.

“Nah di dalam Undang-Undang Kesehatan yang kita sahkan tahun 2023, kita meletakkan bagaimana mereka-mereka yang dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) itu dikembalikan,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, DPR juga berhasil melakukan revisi Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang selama ini dianggap menjadi ancaman dalam kehidupan demokrasi. Itu bisa dilihat dari banyaknya kasus terkait pencemaran nama baik, bahkan ada yang awalnya menjadi pelapor, namun berbalik menjadi tersangka.

“Nah, revisi UU ITE meletakkan bagaimana pasal-pasal karet, terkhusus tentang pencemaran nama baik itu kita bisa diselesaikan,” tukas Willy.

Terakhir, DPR juga telah mengesahkan revisi UU Aparatur Sipil Negara (ASN) yang merupakan produk legislasi yang banyak ditunggu para pegawai honorer di seluruh Indonesia.

Advertisement

“Undang-Undang ASN ini kabar gembira, kabar baik bagaimana tenaga honorer menjadi tenaga kontrak (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja/PPPK),” jelasnya.

Walau demikian, Wakil Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI itu menyatakan tidak semua undang-undang yang dihasilkan bisa diterima semua pihak, bahkan mendapat komplain.

“Ingat, DPR bukan lembaga pemuas, tapi lembaga politik yang memiliki proyektif dan perspektif jangka panjang dalam rangka mengakomodasi kepentingan rakyat,” tegasnya.

(*)

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri
Politik7 bulan ago

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Kaisar Abu Hanifah: Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri

Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, menyoroti rencana pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara yang akan mengimpor 105.000...

Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan! Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!
Politik7 bulan ago

Modus Hindari Pembayaran THR, Zainul Munasichin: Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!

Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, merespons komitmen PT Karunia Alam Segar sebagai produsen Mie Sedaap di Gresik, Jawa Timur,...

Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing
Politik7 bulan ago

Terkait Polemik Paspor Asing, Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer

Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo menyoroti polemik yang melibatkan influencer Dwi Sasetyaningtyas setelah pernyataannya terkait kebanggaan memiliki...

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim
Politik7 bulan ago

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Masih Adanya Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim

Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Nur Purnamasidi menyoroti masih adanya paradoks dalam pembangunan kepemudaan di Provinsi Jawa Timur. Meskipun...

Darori Wonodipuro Darori Wonodipuro
Politik7 bulan ago

Darori Wonodipuro Dorong RUU Komoditas Strategis Selaras Aturan Perdagangan Internasional

Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menekankan pentingnya penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Komoditas Strategis yang selaras dengan aturan perdagangan internasional...

Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong
Politik7 bulan ago

Lestari Moerdijat: Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong

Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan kolaborasi antara pemuda terdidik dan komunitas penggerak akar rumput, sebagai upaya...

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara
Politik7 bulan ago

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara

Anggota Komisi II DPR RI Komarudin Watubun menegaskan pentingnya penanganan serius terhadap wilayah perbatasan negara melalui pembentukan Panitia Khusus (Pansus)...

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa
Politik7 bulan ago

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendorong agar kebijakan dan program kepemudaan tidak hanya berfokus pada kalangan mahasiswa,...

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara
Politik7 bulan ago

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara

Anggota Komisi II DPR RI Taufan Pawe menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan perbatasan Papua yang komprehensif dan berkelanjutan agar masyarakat benar-benar...

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang
Politik7 bulan ago

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang

Komisi XI DPR RI menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja penerimaan negara tahun 2025 sebagai pijakan kebijakan fiskal di tahun...