Nasional
Ahli Waris Korban Lion Air JT 610 Terima Total Rp 1,38 Miliar
Kabarpolitik.com, JAKARTA – Ahli waris korban Lion Air yang jatuh di perairan Karawang segera menerima santunan. Total santunan yang bakal mereka terima Rp 1,38 miliar. Santunan tersebut berasal dari Lion Air dan Jasa Raharja.
Khusus Lion Air, total santunan yang diberikan Rp 1,33 miliar. Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro menjelaskan, uang sebesar itu merupakan akumulasi dari beberapa komponen.
“Kami memberikan uang tunggu Rp 5 juta kepada keluarga, uang kedukaan Rp 25 juta, serta uang santunan meninggal dunia Rp 1,25 miliar,” jelasnya. Uang santunan meninggal itu mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 77 Tahun 2011.
Selain itu, ahli waris mendapat penggantian bagasi sebesar Rp 4 juta. “Namun, untuk penggantian bagasi, Lion Air akan memberikan Rp 50 juta,” ucap Danang. Sementara itu, dari Jasa Raharja, ahli waris akan memperoleh santunan Rp 50 juta.
Kapan santunan itu diberikan? Danang belum menjelaskan. Pertanyaan lanjutan yang diajukan Jawa Pos melalui WhatsApp belum dibalas. Khusus Jasa Raharja, santunan diberikan setelah identifikasi korban selesai. Kemarin Jasa Raharja menyerahkan santunan kepada ahli waris dari tiga korban yang telah diidentifikasi kali pertama. Yakni, Jannatun Cintya Dewi, Monni, dan Chandra Kirana. “Jasa Raharja telah menyerahkan Rp 50 juta kepada ahli waris masing-masing yang sah, dalam hal ini orang tua korban,” jelas Direktur Utama PT Jasa Raharja (Persero) Budi Rahardjo Slamet.
Di sisi lain, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KN KT) belum bisa membaca flight data recorder (FDR) pesawat Lion Air JT 610. Kepala Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengungkapkan, pihaknya tengah membersihkan FDR. Alat tersebut terendam air laut sehingga belum bisa dibaca.
Tidak mudah “membedah” isi FDR itu. KNKT melibatkan tiga badan investigasi independen dari Amerika Serikat, Singapura, dan Australia. Saat ditemukan, bagian luar FDR rusak. Untung, memory card-nya tidak rusak. “Ada garam menempel dalam memory card. Tapi, kami belum menemukan kerusakan pada komponen FDR,” papar Nurcahyo.
Setelah garam dibersihkan, proses tidak berhenti. Tim harus menyambung memory card ke black box lain yang kondisinya masih bagus. KNKT mendapat pinjaman kotak hitam dari Lion Air dengan jenis FDR yang sama. Satu lagi dipinjami Singapura. “Besok (hari ini, Red) kita download,” terangnya.
Di pihak lain, Ditjen Perhubungan Udara, Lion Air, Boeing Representative, dan General Electric Representative sudah melakukan pertemuan. Pertemuan tersebut membahas permintaan agar Boeing dan General Electric memberikan dukungan kepada Lion Air dan Garuda terkait operasional penerbangan pesawat Boeing 737 MAX 8.
“Boeing diminta membantu proses evaluasi terkait repetitive problems, pelaksanaan troubleshooting, kesesuaian antara prosedur dan implementasi pelaksanaan aspek kelaikudaraan,” ujar Plt Dirjen Perhubungan Udara Pramintohadi Sukarno di kantor Kemenhub. Permintaan lainnya, Boeing dan General Electric melakukan komunikasi secara intensif dengan Ditjen Hubud.
Sementara itu, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri kembali berhasil mengidentifikasi tiga korban kecelakaan Lion Air JT 610. Tiga korban tersebut adalah Endang Sri Bagusnita, 20; Wahyu Susilo, 31; dan Fauzan Azima, 25 (selengkapnya lihat grafis).
Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri Kombespol Putut Tjahjo Widodo menuturkan, saat ini telah ada 306 sampel DNA yang masuk ke laboratorium. Tahap pertama ada 87 sampel DNA yang akan selesai diidentifikasi pada Sabtu malam atau dini hari. “Kita akan lihat hasilnya Minggu pagi,” jelasnya.
Dia memastikan tim akan berupaya keras agar secepatnya menuntaskan identifikasi korban. “Dan diupayakan segera dikembalikan atau diserahkan ke keluarga,” ungkapnya.
Hasil tes DNA dipastikan akurat. Hanya, ada kelemahan berupa mahalnya biaya sekaligus lamanya waktu identifikasi. “Itu saja kelemahannya, butuh setidaknya empat hari,” papar polisi dengan tiga melati di pundak itu.
Lacak Sinyal VCR
Tim SAR gabungan mengangkat serpihan pesawat, roda pendaratan kedua, dan turbin pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh pada Senin (29/10). Tim juga berhasil mengangkat 104 kantong berisi potongan jenazah.
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Nugroho Budi Wuryanto mengungkapkan, roda depan dan belakang ditemukan. Sisa turbin pesawat juga dapat diangkat dengan crane di KM Baruna Jaya. Tim juga berhasil mengangkat beberapa serpihan badan pesawat berupa sayap bagian bawah dan sebagian badan pesawat. Bagian-bagian lain pesawat, kata Nugroho, sudah terdeteksi melalui gambar dari remotely operated underwater vehicle (ROV) yang diterjunkan ke bawah air.
Sementara itu, total 104 kantong jenazah berisi potongan tubuh juga telah ditemukan. Begitu dinaikkan ke pelabuhan Jakarta International Cargo Terminal (JICT) II, kantong jenazah segera dibawa ke RS Polri.
Nugroho mengatakan, kegiatan SAR hari ini difokuskan di area yang banyak ditemukan bagian besar bangkai pesawat. Area itu terletak sekitar 7,5 mil lepas pantai Tanjung Pakis, Karawang. “Kami akan konsentrasi di situ agar bisa segera mengangkat dan menemukan korban maupun barang lain,” jelasnya.
Kepala Basarnas Muhammad Syaugi mengatakan, sejak pagi perangkat sonar mendengar suara ping dari benda yang diduga cockpit voice recorder (VCR). “Sinyalnya agak lemah, tidak jauh dari posisi kapal Victory,” jelasnya. Sinyal didengar ping detector yang ada di kapal Teluk Bajau Victory milik Pertamina. Posisi ping berasal dari arah buritan kiri belakang.
Panglima Armada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono menuturkan, lokasi utama puing pesawat Lion Air telah ditemukan. Sejak dideteksi KRI Rigel pada 30 Oktober lalu, penyelam yang ditugaskan melihat langsung puing-puing itu berada di lokasi 7,5 mil dari pantai Tanjung Pakis. Untuk kondisi badan pesawat tersebut, benar-benar tidak ada yang utuh. “Hanya roda pesawat, kemudian sisa-sisa badan (pesawat, Red), ada kayak sayap. Banyak katanya (penyelam) di bawah itu. Cuma itu riskan kalau mau diangkat, khawatirnya tidak bisa utuh lagi,” ujar Yudo di atas KRI Rigel di perairan Karawang siang kemarin (3/11).
Pantauan Jawa Pos (Grup Fajar), di lokasi yang tidak jauh dari KRI tersebut ada kapal Teluk Bajau Victory milik Pertamina. Belasan perahu karet terlihat merapat di lokasi yang telah ditandai itu. Dari kejauhan banyak petugas yang berada di perahu tersebut. “Sekarang dilaksanakan penyelaman terpadu dari penyelam Dislambair, Kopaska, Denjaka, Taifib, maupun Basarnas. Yang sekarang di atasnya ada KM Victory yang melaksanakan pengangkatan,” terang Yudo.
Lebih lanjut, Yudo mengungkapkan, puing pesawat itu berserakan dengan radius sekitar 50 meter. Dari penampakan visual hasil pengamatan penyelam, ada puing setinggi 2 meter, 1 meter, dan setengah meter. “Kondisi di bawah itu campur lumpur. Selama ini tidak ditemukan yang gelondongan besar. Banyak (bagian pesawat, Red), tapi sudah hancur. Jadi, kalaupun diangkat, sudah peretel semua,” kata dia.
Sedangkan untuk jenazah korban, belum ada yang ditemukan dalam kondisi utuh kemarin. Penyelam hanya menemukan bagian tubuh korban di lokasi radius 50 meter itu. (lyn/tau/jun/wan/idr/c10/oni/JPC)
rn
source


