Nasional
Pasir Sisa Tambang Bikin Melon Tambah Montok
Kabarpolitik.com, JAKARTA – Limbah pasir sisa tambang (tailing) merupakan zat kotor yang dapat mencemari lingkungan. Namun, di balik dari bahaya limbah tersebut, ada tersimpan manfaat bagi tanaman pangan dan buah-buahan.
Pusat Penelitian Reklamasi dan Keanekaragaman Hayati PT Freeport Indonesia yang terletak di Timika, Kabupaten Mimika, Papua melakukan berbagai hal di pusat penelitiannya dengan tujuan memaksimalkan manfaat tailing. Salah satunya dengan menanam 900 pohon melon di atas lahan tailing seluas 400 meter persegi dengan sistem hidroponik.
“Hasilnya sangat menggembirakan. Pada Oktober ini sudah mampu menghasilkan 1,35 ton buah melon dalam sekali panen. Setiap pohonnya menghasilkan buah seberat 1,5 kilogram,” ujar General Superintendent Reklamasi dan Keanekaragaman Hayati Dataran Rendah PT Freeport Indonesia, Roberth Sarwom kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Minggu (4/11).
Roberth mengatakan, berbagai jenis tumbuhan yang ditanam di Pusat Penelitian Reklamasi dan Keanekaragaman Hayati PT Freeport Indonesia ini dilakukan dengan metode budidaya tanaman dengan media tanamnya yang bukan berupa tanah.
“Teknik menanam ini biasanya menggunakan media tanam air (hidroponik) atau dapat juga menggunakan media lain seperti sekam padi, kertas koran, dan media lainnya selain tanah seperti pasir tailing,” katanya.
Adapun sistem ini mampu menghasilkan tanaman yang sehat karena tidak memerlukan pestisida serta dapat diproduksi kapan saja tanpa terganggu dengan kondisi iklim. Manajer Senior Departemen Lingkungan PT Freeport Indonesia, Gesang Setyadi menjelaskan, pemanfaatan tailing sebagai media tanam adalah bagian dari riset yang dilakukan oleh Freeport Indonesia agar masyarakat bisa bercocok tanah di lahan tailing pasca tambang.
“Sebagai perusahaan tambang yang selalu mengutamakan aspek perlindungan dan pelestarian lingkungan, kami berkomitmen agar keberadaan tailing bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh masyarakat, terutama pada daerah-daerah yang terkena dampak langsung oleh kegiatan pertambangan,” harapnya.
Gesang menjelaskan, Pusat Penelitian Reklamasi dan Keanekaragaman Hayati telah berdiri sejak tahun 1995 dan telah menghasilkan berbagai jenis produk pertanian, peternakan dan perikanan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Kedalaman dari tailing di sini sekitar tujuh meter dari permukaan tanah. Di tailing inilah ditanam berbagai jenis tanaman sebagai proyek percontohan. Mulai dari sayur-sayuran hingga buah-buahan,” tutur Gesang. Kegiatan penanaman dan penghijauan lahan bekas endapan tailing ini merupakan bagian dari upaya Freeport Indonesia untuk mengubah persepsi yang beredar di masyarakat terkait tailing yang sering disebut mengandung bahan kimia dan merusak lingkungan.
Selain itu, program ini juga dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan kepada publik bahwa tempat pengendapan pasir sisa tambang yang identik dengan limbah yang tidak bermanfaat justru masih bisa ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman, baik dengan campur tangan manusia maupun secara alami tanpa campur tangan manusia.
“Pastinya yang dilakukan ini merupakan bagian dari uji coba untuk memastikan apakah berbagai jenis tanaman bisa tumbuh di area pengendapan tailing atau tidak. Ternyata bisa tumbuh secara baik. Bahkan tingkat kesuburannya tidak jauh berbeda dengan yang ditanam di area bukan pasir sisa tambang,” pungkasnya. (rmn/indopos)
rn
source


