Nasional
Pemerintah Diminta Lakukan Kajian untuk Produksi Bawang Merah
Kabarpolitik.com, BREBES – Sekertaris Asosiasi Petani Bawang Merah Indonesia, Benny Santoso menyebutkan, pada dasarnya pihaknya tidak mempersoalkan harga bawang merah yang saat ini mengalami penurunan.
Hal tersebut diungkapkannya terkait dengan anjloknya harga bawang merah di pasaran. Ia pun menyebut anjloknya harga bawang menjadi peroslan serius bangi pemerintah Indonesia. Pasalnya, janji pemerintah yang akan menyerap bawang merah saat mengalami penurunan harga belum juga terealisasi.
Menurutnya, menurunnya harga bawang yang terjadi dinilai karena adanya over produksi. Selain itu adanya pemerataan produktivtas bawang yang tersebar di sejumlah daerah.
Dia juga meminta agar pemerintah memperhatikan Break Even Point (BEP)bagi petani bawang. Selain itu pihaknya mengimbau agar pemerintah melakukan kajian bagi produktivuitas bagi para petani bawang merah. Namun demikian ia berharap agar pemerintah memberikan perhatian bagi para petani dalam hal distribusinya.
“Kami tidak mempersoalkan harga, karena dengan tingginya harga bawng tentunya juga akan meyulitkan konsumen. Namun kami minta kepada Bulog dapat menyerapnya. Karena biaya produksi yang telah dikeluarkan oleh para petani sudah cukup besar dan tidak sebanding dengan nilai penjualan. Akan lebih merugi lagi bila bawang tersebut tidak ada yang menyerapnya,” ujar Benny kepada wartawan, Senin, (01/10/2018).
Dia pun menyebutkan bahwa harga bawang merah saat ini perkilonya berada pada kisaran Rp 6 ribu hingga Rp 8 ribu per kilonya. “Untuk bawang merah jenis besar dipatok dengan harga Rp 8 ribu, sedangkan untuk jenis sedang pada kisaran Rp 6 ribu per kilo,” ujar dia.
Sebelumnya, petani bawang merah asal Brebes Jawa Tengan mulai mengeluhkan anjloknya harga bawang berada pada level terendah. Bahkan para petani pun menagih janji pemerintah untuk menyerap harga bawang saat dalam kondisi terpuruk.
Turmin (55) petani bawang asal Brebes mengatakan bahwa anjloknya harga bawang di daerahnya dipicu adanya pemerataan produktivtas bawang di seluruh Indonesia. Bahkan daerah-daerah yang semula dipasok bawang, kata dia, saat ini telah melakukan penanaman bawang dengan hasil yang melimpah.
“Daerah yang tadinya kita pasok, malah balik mengiurim bawang ke Brebes. Dan persoalan itu kami nilai sebagai pemicu menurunnya harga bawang saat ini,” kata Turmin kepada wartawan, Senin, (01/10).
Menurutnya, sesuai hukum dagang, produksi bawang yang melimpah akan berdampak kepada penurunan harga. Nemun demikian pihaknya meminta kepada Bulog agar dapat menyerap produksi bawang yang ada di daerahnya. Lanjut dia, meski saat ini Bulog telah membangun gudang bawang untuk menyerap produksi bawang petani, namun belom beroperasi.
“Kami berharap agar gudang Bulog di Brebes segera beroperasi, sehingga para petani bawang tidak merugi. Karena biaya produksi penanaman bawang sudah cukup tinggi. Bila persoalan ini tidak segera ditangani khawatir akan menimbulkan gejolak bagi petani bawang,” ucapnya. (***/Fajar)
rn
source


