Connect with us

Nasional

Perut Gunung

Published

on

Oleh Dahlan Iskan

Kabarpolitik.com–Baru kali ini saya melihat banyak anak kecil. Di Tiongkok. Atau wanita-wanita hamil di jalan trotoar.

Itu karena saya lagi di kota kecil Xichang. Kota yang mayoritas penduduknya suku Yi. Salah satu dari 50 suku minoritas di Tiongkok.

Suku minoritas memang boleh punya anak berapa pun. Termasuk di saat Tiongkok hanya membolehkan satu anak.

Pemandangan pun jadi aneh. Kok banyak anak kecil. Meski tidak sebanyak di Indonesia.

Advertisement

Ada juga pemandangan seperti di lingkungan suku Dayak di Kalimantan: wanita menggendong keranjang di punggung mereka.

Wajah mereka pun tidak seperti umumnya orang Tiongkok. Yang didominasi suku Han itu. Wajah mereka sangat mirip orang Dayak.

Dulu suku ini termasuk yang terpencil. Terasing. Tinggal di pegunungan nan jauh. Di gugusan dataran tinggi Kun Lun.

Bahasa mereka berbeda. Pun tulisannya. Punya huruf sendiri. Toko-toko, gedung-gedung, diwajibkan menuliskan nama dengan huruf suku Yi. Baru di bawahnya ada tulisan dalam bahasa Mandarin.

Sekarang kota Xichang tidak terisolasi lagi. Sejak ada jalan tol yang melewatinya. Yang menembus gunung-gunung tinggi. Yang melintang di atas lembah-lembah yang curam.

Advertisement

Jalan tol ke kota Xichang inilah yang videonya banyak beredar di Indonesia. Yang dramatik itu. Yang disebut ‘tol di atas awan’. Atau ‘tol langit’.

Tentu saya tidak bisa membuat video sebaik itu. Posisi saya di dalam mobil. Yang dilarang berhenti di jalan tol.

Saya hanya bisa memotret sebisa saya. Sedang video yang dramatik itu dibuat secara khusus. Pakai helikopter. Atau drone.

Di musim yang dipilih pula: yang awannya sedang menggelayut. Yang cahaya paginya masih penuh kabut. Yang puncak-puncak gunungnya masih penuh salju.

Saya ingin sekali lewat tol ini di bulan Januari. Agar bisa memperoleh suasana terbaik. Atau awal Desember. Pun pagi-pagi sudah harus tiba di lokasi ini.

Advertisement

Sedang perjalanan saya sekarang ini harus berangkat dari kota Chengdu. Ibu kota Provinsi Sichuan.

Biarpun jam 7 pagi sudah berangkat masih terlalu siang mencapai lokasi dramatik itu, apalagi hari itu hari libur nasional: Cing Ming. Yang banyak orang harus mudik. Ke kuburan leluhur. Jalan ke arah luar kota macet sekali.

Namun video yang indah itu pun tidak lengkap. Video itu tidak bisa menggambarkan yang satu ini: bagaimana kondisi di dalam terowongan. Di perut gunung. Yang salah satu terowongannya sepanjang 10 km.

Melingkar-lingkar pula. Baru kali ini saya lewat terowongan melingkar di dalam gunung.

Jalan tol yang saya lewati ini pasti mahal sekali. Terowongannya saja 29 buah. Jembatannya lebih banyak lagi. Separuh dari panjang jalan ini adalah jembatan dan terowongan.

Advertisement

Begitu banyak ujung jembatan yang berupa terowongan. Atau ujung terowongannya langsung jembatan.

Jembatannya pun begitu banyak yang tinggi. Yang pilarnya sampai hampir 200 meter. Yang kalau difoto dari bawah pasti dramatik. Apalagi kalau kabut lagi tebal.

Dulu banyak tempat berhenti. Untuk mengambil foto. Di celah-celah tebing. Kini tidak boleh lagi. Lokasi pemberhentian itu hanya cukup untuk tiga mobil. Bikin macet. Tidak sebanding dengan banyaknya yang ingin berhenti.

Mahalnya jalan ini juga karena posisinya yang di patahan bumi. Rawan gempa.

Konstruksinya harus memperhitungkan gempa terbesar di situ. Yang pernah terjadi tahun 2013. Yang menghancurkan kawasan Jiu Zai Guo. Daerah wisata bintang lima. Yang sampai sekarang masih tertutup. Belum selesai dibangun kembali.

Advertisement

Saya pun harus berhenti di kota Huang Long. Ketika tahun lalu ke Sichuan.

Xichang kini sudah jadi kota modern. Tidak ada lagi kampung lama suku Yi. Perumahannya sudah apartemen bertingkat.

Kotanya tertata rapi. Dengan jalan-jalan lebar. Dengan trotoar lebar. Banyak ditanami pohon bunga JacaRanda. Sakura versi Xichang. Yang bunganya ungu.

Yang hanya berbunga di musim Sakura. Selama dua minggu saja.

View this post on Instagram

Advertisement

Trotoar Prawed. Di kota terpencil suku minoritas Yi trotoar bisa jadi obyek prawed. Tempat perhentian busnya juga dibuat khas. Trotoarnya lebar. Bank terbesar di Tiongkok pun harus menuliskan nama dalam bahasa dan huruf suku Yi. Saya pun sempat berbincang dengan tiga wanita suku itu. Kini kota Xichang tidak terasing lagi. Sejak ada jalan 'tol di atas awan'. Yang menembusi gunung-gunung tinggi sambung-menyambung. Dari Xichang pun (di propinsi Sichuan) kini ada jalan tol ke kota Shangrila, di pegunungan terpencil di propinsi Yunnan.

A post shared by Dahlan Iskan (@dahlaniskan19) on

//www.instagram.com/embed.js

Trotoar yang lebar itu juga dimanfaatkan untuk foto-foto prewedding. Salah satunya juga jadi bahan Instagram saya.

Xichang sudah disiapkan jadi kota wisata. Menjadi rangkaian dalam satu kalung mutiara: Xichang-Lijiang-Shangrila.

Advertisement

Beda provinsi tapi satu gugusan pegunungan Kun Lun. Sudah dilengkapi pula jalan tol ke semua rangkaian itu.

Saya pernah merasakan sebelum adanya tol. Dari Lijiang ke Shangrila. Empat jam. Lewat lereng-lereng gunung. Sambil melihat pilar-pilar tinggi yang lagi dibangun. Gunung yang lagi dibor. Untuk rangkaian kalung tol mutiara itu.

“Sebelum ada terowongan ini melingkari satu gunung ini saja perlu tiga jam,” ujar sopir saya. Itu satu gunung. Bayangkan banyaknya gunung di sini.

Tiongkok memang lagi “memandang ke barat”. Kawasan yang masih tertinggal. Dibanding daerah timur dan tengah. Untuk mengejar target: tidak boleh lagi ada orang miskin. Di tahun 2024. Di akhir masa jabatan kedua Presiden Xi Jinping.

Tahun-tahun belakangan saya memang banyak ke daerah barat. Dengan satu tujuan: melihat bagaimana kemiskinan dihilangkan. (***)

Advertisement

rn
source

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri
Politik7 bulan ago

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Kaisar Abu Hanifah: Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri

Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, menyoroti rencana pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara yang akan mengimpor 105.000...

Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan! Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!
Politik7 bulan ago

Modus Hindari Pembayaran THR, Zainul Munasichin: Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!

Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, merespons komitmen PT Karunia Alam Segar sebagai produsen Mie Sedaap di Gresik, Jawa Timur,...

Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing
Politik7 bulan ago

Terkait Polemik Paspor Asing, Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer

Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo menyoroti polemik yang melibatkan influencer Dwi Sasetyaningtyas setelah pernyataannya terkait kebanggaan memiliki...

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim
Politik7 bulan ago

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Masih Adanya Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim

Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Nur Purnamasidi menyoroti masih adanya paradoks dalam pembangunan kepemudaan di Provinsi Jawa Timur. Meskipun...

Darori Wonodipuro Darori Wonodipuro
Politik7 bulan ago

Darori Wonodipuro Dorong RUU Komoditas Strategis Selaras Aturan Perdagangan Internasional

Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menekankan pentingnya penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Komoditas Strategis yang selaras dengan aturan perdagangan internasional...

Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong
Politik7 bulan ago

Lestari Moerdijat: Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong

Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan kolaborasi antara pemuda terdidik dan komunitas penggerak akar rumput, sebagai upaya...

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara
Politik7 bulan ago

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara

Anggota Komisi II DPR RI Komarudin Watubun menegaskan pentingnya penanganan serius terhadap wilayah perbatasan negara melalui pembentukan Panitia Khusus (Pansus)...

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa
Politik7 bulan ago

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendorong agar kebijakan dan program kepemudaan tidak hanya berfokus pada kalangan mahasiswa,...

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara
Politik7 bulan ago

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara

Anggota Komisi II DPR RI Taufan Pawe menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan perbatasan Papua yang komprehensif dan berkelanjutan agar masyarakat benar-benar...

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang
Politik7 bulan ago

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang

Komisi XI DPR RI menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja penerimaan negara tahun 2025 sebagai pijakan kebijakan fiskal di tahun...