Connect with us

Politik

Gobel Minta Pemerintah Bentuk Task Force untuk Telisik Deindustrialisasi

Published

on

JAKARTA (6 Maret): Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, meminta pemerintah membentuk satuan gugus tugas (task force) untuk menelisik dan mencari solusi komprehensif terhadap permasalahan penutupan sejumlah pabrik tekstil dan pemutusan hubungan kerja (PHK) para karyawan di banyak industri.

“Perlu analisa menyeluruh dan solusi menyeluruh. Ini bukan semata masalah tren global tapi ada banyak faktor penyebab lainnya. Hentikan menyalahkan tingginya pohon, karena ada banyak cara untuk bisa memetik buah,” ungkap Gobel dalam keterangannya, Rabu (5/3/2025).

Gobel menyampaikan hal itu menanggapi badai penutupan banyak pabrik tekstil di Bandung disusul raksasa tekstil Sritex di Sukoharjo. Selain itu, juga terjadi banjir PHK di sejumlah perusahaan seperti Sanken dan Yamaha Music. Bahkan Yamaha Music diberitakan menutup dua divisi pabriknya. Fenomena itu merupakan rangkaian proses deindustrialisasi di Indonesia dalam satu dekade ini.

“Ini perlu penyelidikan menyeluruh. Pasti ada yang salah pada kita, karena negara seperti Vietnam justru tumbuh dengan mengesankan,” katanya.

Di era globalisasi ini, kata Gobel, investor sangat mudah memindahkan dananya ke negara yang lebih kondusif untuk berbisnis. Investor, katanya, tak mesti investor asing tapi juga investor dalam negeri.

Advertisement

“Jika kepastian hukum, kebijakan fiskal, kemudahan perizinan, dan masalah perburuhan tidak mendukung maka lebih baik memindahkan pabriknya ke negara lain, lalu barangnya dijual ke Indonesia. Apalagi penyelundupan di Indonesia demikian mudah dan marak. Negara-negara lain pun memberikan kemudahan pajak untuk bisa mengekspor barang industrinya. Nah, karena Indonesia negara berpenduduk besar dan mudah ditembus maka Indonesia menjadi target pasar yang empuk,” katanya.

Oleh karena itu Gobel meminta agar task force tersebut beranggotakan lintas kementerian dan lembaga.

“Tak boleh lagi ada ego sektoral. Semua yang terkait harus dilibatkan,” ujarnya.

Sebagai industrialis, katanya, ia menilai Kementerian Perindustrian sering menjadi pihak yang dikalahkan oleh Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, maupun Kementerian Investasi.

“Tak heran jika kemudian terjadi deindustrialisasi. Membangun industri memang lebih rumit dan hasilnya butuh proses. Tapi ujungnya justru industri lebih menguntungkan dan menguatkan bangsa dan negara,” papar Gobel.

Advertisement

Pertarungan antara sisi industri dan perdagangan, kata dia, sudah terjadi sejak Indonesia baru merdeka.

Industrialisasi, kata Gobel, memiliki efek berantai dari sekadar menjadi importir dan berdagang belaka.

“Dalam industrialisasi itu ada penyerapan tenaga kerja yang besar, ada proses alih teknologi, ada peningkatan kualitas sumber daya manusia, memiliki efek berantai lahirnya industri pendukung, lahirnya kemampuan menciptakan sesuatu, menumbuhkan UMKM, dan secara fisik barangnya ada di Indonesia,” katanya.

Gobel juga mengingatkan bahwa Indonesia telah memiliki omnibus law, yaitu UU Cipta Kerja, yang memberikan kemudahan untuk investasi dan mendorong naiknya ekspor.

“Tapi yang terjadi justru badai PHK dan tutupnya pabrik serta deindustrialisasi. Ini berarti ada ketidakmampuan pemerintah dalam mengimplementasikan undang-undang tersebut,” katanya.

Advertisement

Khusus untuk kasus Sritex, kata Gobel, pemerintah perlu melakukan penyelidikan khusus.

“Utangnya jauh melebihi asetnya, bahkan hampir dua kali lipat. Pemerintah jangan cuma berpatokan pada putusan pengadilan niaga, tapi harus mendapat pemahaman yang menyeluruh dengan melakukan investigasi khusus. Jika berlalu begitu saja, ke depan bisa terjadi pada pabrik-pabrik lain. Mencarikan lapangan kerja untuk 10 ribu orang lebih, apalagi di kota kecil itu tentu tidak gampang. Ini bukan soal sederhana. Ini menyangkut ribuan nasib warga kita,” paparnya.

Legislator NasDem dari Dapil Gorontalo itu juga mengingatkan, tidak ada negara maju yang tak kuat industrinya. Hanya dengan menjadi negara industri maka negara tersebut bisa disebut sebagai negara maju.

“Apakah Indonesia akan terus mengandalkan kekuatannya pada berdagang sumber daya alam? Kan tidak!” tandas Gobel.

Kembali ke soal banjir PHK dan deindustrialisasi, Gobel mengatakan, “Jadi apa inti masalahnya? Masa ada batik harganya cuma 50 ribu rupiah. Jadi segera saja Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri Tenaga Kerja, dan Menteri Investasi duduk bersama dan tentukan solusi konkret. Jangan cuma diskusi,” ujarnya.

Advertisement

(nasihin/*)

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri
Politik5 bulan ago

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Kaisar Abu Hanifah: Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri

Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, menyoroti rencana pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara yang akan mengimpor 105.000...

Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan! Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!
Politik5 bulan ago

Modus Hindari Pembayaran THR, Zainul Munasichin: Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!

Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, merespons komitmen PT Karunia Alam Segar sebagai produsen Mie Sedaap di Gresik, Jawa Timur,...

Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing
Politik5 bulan ago

Terkait Polemik Paspor Asing, Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer

Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo menyoroti polemik yang melibatkan influencer Dwi Sasetyaningtyas setelah pernyataannya terkait kebanggaan memiliki...

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim
Politik6 bulan ago

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Masih Adanya Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim

Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Nur Purnamasidi menyoroti masih adanya paradoks dalam pembangunan kepemudaan di Provinsi Jawa Timur. Meskipun...

Darori Wonodipuro Darori Wonodipuro
Politik6 bulan ago

Darori Wonodipuro Dorong RUU Komoditas Strategis Selaras Aturan Perdagangan Internasional

Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menekankan pentingnya penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Komoditas Strategis yang selaras dengan aturan perdagangan internasional...

Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong
Politik6 bulan ago

Lestari Moerdijat: Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong

Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan kolaborasi antara pemuda terdidik dan komunitas penggerak akar rumput, sebagai upaya...

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara
Politik6 bulan ago

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara

Anggota Komisi II DPR RI Komarudin Watubun menegaskan pentingnya penanganan serius terhadap wilayah perbatasan negara melalui pembentukan Panitia Khusus (Pansus)...

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa
Politik6 bulan ago

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendorong agar kebijakan dan program kepemudaan tidak hanya berfokus pada kalangan mahasiswa,...

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara
Politik6 bulan ago

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara

Anggota Komisi II DPR RI Taufan Pawe menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan perbatasan Papua yang komprehensif dan berkelanjutan agar masyarakat benar-benar...

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang
Politik6 bulan ago

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang

Komisi XI DPR RI menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja penerimaan negara tahun 2025 sebagai pijakan kebijakan fiskal di tahun...