Connect with us

Nasional

Prof Asep Saepudin Jahar Ungkap Tiga PR Indonesia di Tengah Meredanya Konflik Iran-Amerika

Published

on

Meredanya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel harus dimaknai Indonesia sebagai momentum strategis untuk memperkuat fondasi pembangunan nasional. Stabilitas geopolitik dunia yang lebih kondusif dinilai membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi, investasi, perdagangan internasional, dan kerja sama global.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa perdamaian dunia tidak otomatis menghadirkan kemajuan bagi suatu negara. Menurutnya, keberhasilan memanfaatkan momentum global sangat ditentukan oleh kesiapan dan kekuatan internal bangsa.

“Pelajaran terbesar dari meredanya konflik Iran dan Amerika Serikat bukan hanya pentingnya perdamaian, melainkan pentingnya kesiapan. Sebab hanya bangsa yang kuat secara ekonomi, kokoh dalam tata kelola pemerintahan, unggul dalam ilmu pengetahuan, dan matang dalam peradaban yang mampu mengubah stabilitas global menjadi kemajuan nasional,” ujar Prof. Asep di Jakarta, Selasa (23/6).

Menurutnya, sejarah menunjukkan banyak negara gagal memanfaatkan situasi dunia yang stabil karena tidak memiliki fondasi nasional yang kuat. Sebaliknya, sejumlah negara berhasil melakukan lompatan pembangunan karena mampu menjadikan momentum global sebagai pengungkit kemajuan domestik.

Dalam konteks tersebut, Prof. Asep menilai Indonesia setidaknya memiliki tiga pekerjaan rumah besar yang harus terus diperkuat.

Advertisement

Pertama, memperkuat kemandirian bangsa melalui pembangunan yang berpihak pada rakyat. Ketahanan pangan, kemandirian energi, hilirisasi industri, transformasi digital, dan penguasaan teknologi harus menjadi agenda prioritas nasional.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kualitas kebijakan, tetapi juga oleh efektivitas implementasinya.

Sebagai contoh, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sebagai investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Meski demikian, keberhasilan program tersebut membutuhkan tata kelola yang baik, data yang akurat, sistem distribusi yang efektif, pengawasan yang kuat, serta evaluasi yang berkelanjutan.

“Program yang baik harus menghasilkan dampak yang nyata. Niat baik harus bertemu dengan tata kelola yang baik agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.

Pekerjaan rumah kedua, lanjut Prof. Asep, adalah memperkuat stabilitas politik dan kualitas tata kelola pemerintahan. Menurutnya, tidak ada negara maju yang dibangun di atas birokrasi yang lemah, korupsi yang tinggi, serta rendahnya kepercayaan publik.

Advertisement

Ia menilai prinsip-prinsip good governance seperti akuntabilitas, transparansi, efektivitas, dan supremasi hukum sejalan dengan tradisi intelektual Islam. Dalam pandangan Ibn Khaldun, kata dia, keadilan merupakan fondasi keberlangsungan negara. Sementara Al-Mawardi menegaskan bahwa kekuasaan harus dijalankan untuk menjaga kemaslahatan publik.

Karena itu, reformasi birokrasi, penguatan sistem merit, digitalisasi pelayanan publik, pemberantasan korupsi, dan peningkatan profesionalisme aparatur negara harus terus menjadi agenda prioritas.

“Kepercayaan publik bukan hanya modal politik, tetapi juga modal pembangunan yang menentukan keberhasilan suatu bangsa,” tegasnya.

Sementara pekerjaan rumah ketiga adalah memperkuat pendidikan tinggi sebagai mesin penggerak masa depan Indonesia. Dalam era persaingan global berbasis pengetahuan, Prof. Asep menilai penguatan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi kebutuhan strategis.

Indonesia, kata dia, membutuhkan lebih banyak ilmuwan, insinyur, peneliti, ahli kecerdasan artifisial, inovator, dan technopreneur yang mampu menghasilkan solusi bagi berbagai tantangan nasional maupun global.

Advertisement

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi dunia. Kita harus menjadi produsen pengetahuan, inovasi, dan solusi,” ujarnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai moral dan peradaban. Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki modal besar untuk memainkan peran global melalui pengembangan Islam moderat, dialog antarperadaban, serta studi keislaman kontemporer.

Menurut Prof. Asep, posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia yang mampu mengelola keragaman secara damai merupakan kekuatan strategis yang semakin mendapat pengakuan internasional.

Hal itu, antara lain, tercermin dari capaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berhasil menempatkan bidang Theology, Divinity and Religious Studies pada peringkat ke-29 dunia dalam QS World University Rankings by Subject.

“Jika STEM merupakan instrumen kemajuan bangsa, maka moderasi Islam adalah kontribusi Indonesia bagi peradaban dunia,” katanya.

Advertisement

Karena itu, ia mendorong pembangunan pendidikan tinggi nasional diarahkan pada penguatan keunggulan yang terfokus. Setiap perguruan tinggi perlu mengembangkan kekhasan dan keunggulan strategis masing-masing agar terbentuk ekosistem akademik yang saling melengkapi.

Menurutnya, ada perguruan tinggi yang dapat menjadi pusat unggulan kecerdasan artifisial dan teknologi, sementara yang lain menjadi pusat unggulan kesehatan, pertanian, energi, maritim, ekonomi syariah, studi Islam, maupun kajian peradaban.

“Negara perlu hadir melalui kebijakan afirmatif, dukungan riset yang memadai, dan kolaborasi internasional yang berkelanjutan untuk memperkuat pusat-pusat keunggulan tersebut,” ujarnya.

Prof. Asep menegaskan bahwa perdamaian dunia merupakan peluang yang harus dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia. Namun apakah peluang tersebut mampu diubah menjadi kemajuan nasional atau hanya berlalu tanpa makna, menurutnya sangat bergantung pada kemampuan bangsa memperkuat dirinya dari dalam.

“Perdamaian dunia adalah peluang. Tetapi masa depan Indonesia tetap ditentukan oleh seberapa kuat kita membangun ketahanan ekonomi, tata kelola, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan peradaban bangsa sendiri,” pungkasnya.

Advertisement
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri
Politik6 bulan ago

Penuhi Kebutuhan Operasional Kopdes, Kaisar Abu Hanifah: Indonesia Mampu Produksi Otomotif Dalam Negeri

Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, menyoroti rencana pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara yang akan mengimpor 105.000...

Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan! Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!
Politik6 bulan ago

Modus Hindari Pembayaran THR, Zainul Munasichin: Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!

Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, merespons komitmen PT Karunia Alam Segar sebagai produsen Mie Sedaap di Gresik, Jawa Timur,...

Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer Terkait Polemik Paspor Asing
Politik6 bulan ago

Terkait Polemik Paspor Asing, Yanuar Arif Minta Klarifikasi Influencer

Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo menyoroti polemik yang melibatkan influencer Dwi Sasetyaningtyas setelah pernyataannya terkait kebanggaan memiliki...

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim
Politik7 bulan ago

Muhammad Nur Purnamasidi Soroti Masih Adanya Paradoks Pembangunan Kepemudaan di Jatim

Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Nur Purnamasidi menyoroti masih adanya paradoks dalam pembangunan kepemudaan di Provinsi Jawa Timur. Meskipun...

Darori Wonodipuro Darori Wonodipuro
Politik7 bulan ago

Darori Wonodipuro Dorong RUU Komoditas Strategis Selaras Aturan Perdagangan Internasional

Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menekankan pentingnya penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Komoditas Strategis yang selaras dengan aturan perdagangan internasional...

Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong
Politik7 bulan ago

Lestari Moerdijat: Kolaborasi Pemuda Terdidik dan Komunitas Akar Rumput Perlu Didorong

Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan kolaborasi antara pemuda terdidik dan komunitas penggerak akar rumput, sebagai upaya...

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara
Politik7 bulan ago

Komarudin Watubun Dorong Pembentukan Pansus Perbatasan Negara

Anggota Komisi II DPR RI Komarudin Watubun menegaskan pentingnya penanganan serius terhadap wilayah perbatasan negara melalui pembentukan Panitia Khusus (Pansus)...

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa
Politik7 bulan ago

Program Pemberdayaan Harus Beri Ruang bagi Pemuda Berprestasi Nonmahasiswa

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendorong agar kebijakan dan program kepemudaan tidak hanya berfokus pada kalangan mahasiswa,...

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara
Politik7 bulan ago

Taufan Pawe: Perbatasan Papua Harus Jadi Wajah Terdepan Kehadiran Negara

Anggota Komisi II DPR RI Taufan Pawe menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan perbatasan Papua yang komprehensif dan berkelanjutan agar masyarakat benar-benar...

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang
Politik7 bulan ago

Misbakhun: Evaluasi Kinerja 2025 Penting agar Tekanan Fiskal Tak Terulang

Komisi XI DPR RI menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja penerimaan negara tahun 2025 sebagai pijakan kebijakan fiskal di tahun...